GBI ROCK MAKASSAR

Representative of Christ Kingdom in Makassar

Mengelola Berkat Kerajaan September 19, 2008

Pdm. Jocis Halim

1 April 2007

Ada perbedaan besar antara memberikan perpuluhan dan mengembalikan perpuluhan. Pengertian memberikan perpuluhan adalah kita memberikan 10% kepada Tuhan dan sisanya (90%) merupakan milik kita. Atau dengan kata lain, bahwa sebenarnya semuanya (100%) tersebut adalah milik kepunyaan kita.

Ini berlawanan dengan konsep perpuluhan yang mengajarkan bahwa semua yang kita miliki ini merupakan kepercayaan dari Sang Empunya segala sesuatu. Atau, segala yang kita miliki (100%) adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada manusia. Lantas, mengapa Tuhan hanya meminta kita mengembalikan yang 10% saja? Sebab, kita, manusia, dipercayakan oleh Tuhan untuk menjadi pengelola! Oleh sebab kita adalah pengelola maka Tuhan beri kita yang 90%, sedangkan yang 10% kita harus mengembalikannya pada Tuhan, Sang Pemilik.

Maleakhi 3:10, Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”

Kita harus membawa seluruh persembahan persepuluhan ke dalam rumah perbendaharaan Tuhan. Rumah perbendaharaan itu tidak lain dari gereja lokal dimana kita berkomitmen di dalamnya, mendapat makanan rohani sehingga kita bertumbuh secara rohani.

Setelah yang 10% kita bawa seluruhnya ke rumah perbendaharaan Tuhan (baca: gereja lokal), maka kita dituntut untuk mengelola dengan benar berkat yang 90n% tersebut. Sebab kita tidak akan mengalami berkat kelimpahan seperti dalam Maleakhi 3:10 di atas, jikalau kita memang telah mengembalikan seluruh persembahan persepuluhan tapi disamping itu kita tidak bertanggung jawab dengan mengelola dengan benar berkat yang 90% tersebut.

Tuhan minta selain kita mengembalikan seluruh persembahan persepuluhan juga kita wajib mengelola dengan benar berkat yang 90% itu. Dan untuk mengelola dan mengendalikan kekayaan Kerajaan Sorga dibutuhkan mentalitas yang kuat. Pertanyaannya ialah ”Bagaimana (membangun) mentalitas yang kuta ini ada pada kita?” Jawabannya adalah mulailah taat dan jujur dalam mengembalikan persembahan persepuluhan kita kepada Tuhan. Mengembalikan perpuluhan kita itu merupakan tanda ketaatan dan kejujuran kita pada Tuhan.

Di atas dari segala hal di atas, ada satu tingkatan iman yang lebih lagi yang harus kita lakukan adalah KEJUJURAN dalam mengembalikan perpuluhan. Untuk mengakui perpuluhan adalah milik Tuhan, kita membutuhkan kerendahan hati. Untuk mengembalikan perpuluhan dibutuhkan kejujuran (integritas). Dan untuk hidup dalam kebenaran kita wajib melakukan kebenaran. Inilah nilai-nilai Kerajaan Sorga.

Markus 10:17-27

Dikisahkan ada seorang yang datang pada Yesus dengan kerinduan agar memperoleh hidup yang kekal. Ketika ditanya tentang hukum Taurat, orang muda ini dengan sigap menjawab bahwa ia telah melakukan semuanya sejak masa mudanya. Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku,(ay. 21). Mendengar perkataan itu, orang muda ini menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Seperti yang kita ketahui bahwa hukum Taurat terbagi atas 2 bagian, yaitu yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (hukum I-IV), dan yang mengatur manusia dengan sesamanya (hukum V-X). Jadi, maksud Yesus di sini adalah dengan menyuruhnya menjual seluruh harta bendanya dan memberikan kepada orang-orang miskin, tidak lain Tuhan menginginkan orang muda ini punya hubungan dengan Allah. Sebab baginya, harta bendanya menentukan pandangan manusia terhadapnya. Apa maksud Tuhan mengatakan hal tersebut di atas? Yang dikehendaki hanyalah totalitas pada Yesus.

Untuk dapat hidup dalam standar kebaikan manusia bukanlah sebuah hal sulit. Kita akan dikatakan baik jika kita dapat menolong orang lain. Dan bukankah banyak orang yang tidak percaya Yesus sekalipun dapat melakukan hal yang seperti itu, atau bahkan lebih baik? Apa maksud perkataan Yesus kalau begitu? Sebenarnya Tuhan sedang membawa anak muda kaya dengan sebuah pola pemahaman yang satu level lebih lagi tentang hubungan manusia dengan Allah. Dengan menyuruhnya menjual harta bendanya Tuhan lagi menyentuh area paling sensitif dari kehidupan orang muda ini. Dimana tidak ada satu orang pun yang dapat mengatakan hal itu, selain Tuhan sendiri.

Hal yang sama juga dalam kehidupan kita. Adakah hal-hal (atau area-area) ”sensitif” dalam kehidupan kita yang tidak ingin terjamah siapapun, baik itu manusia maupun Tuhan? Adakah hal-hal yang kita pertahankan atau ’tembok-tembok’ dalam kehidupan kita yang kita bangun untuk menutupi/membentengi ’area sensitif’ kita? Hal yang akhirnya membuat kita mengambil langkah sama seperti orang ini, dimana kita menjadi kecewa, sedih lalu pergi meninggalkan Tuhan. Kita mungkin tidak meninggalkan Tuhan, tapi kita menjadi orang percaya dengan standar manusia, yang biasa-biasa saja (tidak radikal), kompromi dan kehidupan percaya kita seperti ”Kristen kapal selam.” Yang muncul ke permukaan ketika Natal, Tahun Baru dan Paskah saja.

Kerinduan Tuhan tatkala kita mengikutiNya adalah biarkan Tuhan yang masuk dan menyelami seluruh kehidupan kita hingga ke area-area terdalam (tergelap/tersembunyi) dalam kehidupan kita; tempat dimana kita tidak ingin disentuh/diketahui bahkan orang yang paling kita kasihi sekalipun. Tuhan ingin masuk sampai ke area-area tersensitif kita.

Tuhan rindu berhubungan intim dengan manusia.

Orang muda ini menyadari bahwa pengendali kehidupannya adalah harta bendanya, dan responnya adalah dia tidak menginginkan Yesus menyentuh ’saraf pengendali’ ini. Hari ini sama, adakah ’saraf pengendali’ dalam kehidupan kita yang tidak ingin kita serahkan pada Tuhan? Saraf pengendali ini dapat berbicara tentang uang, gengsi, kesombongan dan harga diri kita. Sebab Tuhan menghendaki pusat pengendali dari totalitas kehidupan kita adalah Tuhan sendiri.

Apa yang terjadi jika Tuhan yang menjadi pengendali kehidupan kita? Habakuk 3:6, Ia berdiri, maka bumi dibuat-Nya bergoyang; Ia melihat berkeliling, maka bangsa-bangsa dibuat-Nya melompat terkejut, hancur gunung-gunung yang ada sejak purba, merendah bukit-bukit yang berabad-abad; itulah perjalanan-Nya berabad-abad.

Gunung dan bukit itu berbicara tentang: kesombongan dan ketinggian hati manusia. Yang Tuhan kerjakan selama berabad-abad adalah menghancurkan kesombongan manusia. Akan tetapi, orang yang mencintai Tuhan mudah merendah dihadapanNya. Ketika Tuhan menjadi pengendali kehidupan kita maka Tuhan menghancurkan kesombongan kita sehingga yang tampak dari kehidupan kita hanyalah Yesus. Amin!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s