GBI ROCK MAKASSAR

Representative of Christ Kingdom in Makassar

Membangun Manusia Rohani September 19, 2008

Pdm. Jocis Halim S.Th.

18 Pebruari 2007

Firman Tuhan: Lukas 15:11-32

Di gereja lokal ini, tahun 2007 adalah “Tahun Membangun”. Apa yang akan dibangun? Manusia Roh kita. Membangun bukan bicara soal yang tampak atau kelihatan dan menjadi besar, tetapi membangun juga berbicara ke dalam. Sebuah bangunan menjadi sempurna bukan karena model dan tampilannya yang indah, tapi memiliki pondasi yang kuat. Pohon yang kuat adalah pohon yang bertumbuh kedua arah, yang pertama bertumbuh ke bawah atau ke dalam: akarnya bertumbuh semakin dalam dan berhasil mengikatkan dirinya kepada batu besar. Yang kedua bertumbuh ke atas, ada batang pohonnya, daun-daunnya semakin rimbun. Inilah yang harusnya terjadi dalam kehidupan rohani kita. Kita bertumbuh ke bawah artinya semakin melekat, mengikatkan diri dengan batu karang itu, yaitu Tuhan Yesus. Yang kedua, bertumbuh ke atas, yaitu hasil kita melekat dan terikat dengan Yesus, maka kehidupan kita memberikan pengaruh yang benar sesuai firman Tuhan. Inilah yang dinamakan pertumbuhan rohani. Bertumbuh ke dalam bukan sebuah hal yang mudah, karena di dalamnya bertemu batu-batu kecil, tanah yang keras. Bertumbuh ke dalam membutuhkan keputusan dan keberanian untuk siap dibentuk, siap diarahkan dan mengikuti instruksi untuk sampai akhirnya melekat pada batu karang itu.

Lukas 15 :11-32

  1. Kehidupan Anak Bungsu.

Dikatakan bahwa si bungsu ini tinggal bersama-sama dengan ayahnya, dan tidak angin atau hujan, tiba-tiba si bungsu meminta haknya yaitu warisan, dan alkitab mencatat bahwa bapanya membagikan warisan. Kemudian si bungsu menjual warisan itu dan setelah itu pergi ke sebuah negeri yang jauh. Ia boroskan hartanya dengan berfoya-foya. Waktu habis semua hartanya, datanglah bencana. Untuk makan makanan babi saja, tidak ijinkan. Pertanyaannya mengapa ia meminta hak warisannya dan pergi ke negeri yang jauh ?

Gagal mengenal isi hati bapanya.

Ia tinggal dirumah dan dekat bapanya tetapi tidak tahu isi hati bapanya, inilah akar mengapa ia meminta hak warisan dan meninggalkannya. “Menjadi dekat bukan berarti dapat hidup seenaknya dan menghilangkan aturan dan hukum. Saat ia melanggar semua aturan bapanya, ia menjadi tersesat dirumahnya sendiri. Ia menjadi tidak nyaman dan mulai melihat keluar, bahwa diluar rumah bapanya banyak hal yang menyenangkan hatinya.. Gagal mengenal isi hati bapa menyebabkan si bungsu melakukan apa yang diingini hatinya sendiri. Jika ada suatu peristiwa yang terjadi pada kita, maka pertanyaan pertama adalah “Ada apa dengan Saya?” Hari ini Tuhan mau kita mengenal isi hatiNya dan percaya bahwa Tuhan menyediakan yang terbaik

Gagal mengenal apa yang menjadi kehendak bapanya.

Di rumah bapanya banyak orang yang bekerja. Mereka yang tinggal dirumah bapanya karena ada tanggung jawab, bukan karena suatu kedekatan yang berbeda. Kehendak Tuhan bukan berhenti pada tanggung jawab tapi memiliki kedekatan yang berbeda. Tuhan lebih tertarik pada apa yang ada dalam hati kita dari pada apa yang nampak keluar, karena yang di dalam adalah original, tidak dapat dipalsukan. Alasan apa pun yang membuat kita tidak dapat mengenal kehendak Bapa, tidak pernah membuat kita menjadi benar. Ketaatan kitalah membuat benar dihadapanNya.

Satu hal yang baik yang dapat kita contohi dari si bungsu dimana dia menyadari mengapa ditimpa masalah yang besar. Bagi kita yang telah melakukan sebuah kesalahan di masa lampau, mari datang dan selesaikan dengan Tuhan. ”Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia,” (Luk 15:20).

Tidak hanya itu, dikenakan jubah (melambangkan ada penyediaan lagi dari Tuhan, kebesaran); cincin (melambangkan ada perjanjian/ikatan); dan sepatu (melambangkan kebebasan/kemerdekaan melakukan kehendak Bapa).

  1. Kehidupan Anak Sulung.

Pribadi yang kedua adalah gambaran seseorang yang dekat dengan bapanya tetapi tidak mengenal identitas pribadinya. Si Sulung melakukan pekerjaan yang menyenangkan untuk bapanya tetapi menjadi kecewa dan marah pada Bapanya karena melakukan rencana yang diluar pikirannya. Ia tidak menyadari bahwa ia adalah anak Bapa, Bapa yang memiliki semua yang ada dalam rumahnya. Sulung mempunyai motivasi yang tidak jauh berbeda dengan si bungsu. Ia melakukan semua pekerjaan untuk menyenangkan diri sendiri. Ubah paradigma kita, mari melayani dengan motivasi menyenangkan hati Tuhan tanpa melihat siapa yang diuntungkan sehingga dapat melakukan semua tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Untuk melakukan hal ini, kita perlu berjalan dalam hukum kasih kasih karunia yaitu menerima apa adanya tanpa memandang ke belakang. Ada 5 tanda hati yang masih belum pulih.

Ada 5 tanda hati yang belum pulih, yaitu:

  1. saat ada orang yang lebih baik, mulai suka menceritakan kesalahan sesama tapi tidak mau mengakui kelemahan sendiri;
  2. jiwa, pikiran, perasaan dan kehendak kita terganggu saat bertemu dengan orang yang pernah menyakiti kita atau hati kita menjadi pahit;
  3. hati berbicara berbeda dengan apa yang dikatakan mulut, selalu punya alasan untuk membela diri sekalipun ditemukan kesalahannya, cenderung berbohong;
  4. sulit mengampuni/meminta maaf dengan tulus (tulus = melupakan, tidak mengingat atau membicarakan lagi);
  5. suka menyendiri karena takut terluka (trauma).

Jika kita tidak memiliki kedekatan yang berbeda dengan Bapa di Surga, maka apa yang pernah terjadi dalam hidup ini akan terulang kembali. Miliki kedekatan yang berbeda dengan Bapa Di Sorga.

Orang yang mengalami anugerah dan kebaikan Tuhan adalah orang lebih mudah mengoreksi dirinya sendiri daripada mengoreksi orang lain. Amin!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s