GBI ROCK MAKASSAR

Representative of Christ Kingdom in Makassar

TEGUH MENGHADAPI BADAI September 17, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana

7 Januari 2007

Bacaan Firman Tuhan: Markus 4:35-41

Kisah ini dimulai, dimana Yesus mengajak para murid-muridNya untuk berlayar menyeberang. Dan saat berlayar itu terjadi badai dan ombak yang besar. Sebenarnya kita sedang diajarkan bahwa segala yang Tuhan perintahkan/tunjukkan semua itu tidak serta-merta mulus adanya (jalan by–pass) tapi juga ada badai/gelombang.

Jangan cepat menilai/menghakimi orang yang sedang mengalami masalah.

Ada hal yang tidak lazim terjadi, ketika ada taufan dan ombak yang besar menyembur masuk ke dalam perahu, di buritan kapal Yesus malah sedang tidur. Alkitab tidak menulis Yesus bahwa Yesus mengenakan mantel/jas hujan, tapi Alkitab menulis saat semuanya itu terjadi Yesus sedang tidur tenang. Artinya, saat kita melekat dengan Tuhan yang kita sembah, taufan/badai boleh saja dating menerjang, tapi denganNya ada KEAMANAN KEKAL.

Ayub 1:6-12; Ayub yang merupakan orang saleh dengan seijin Tuhan mengalami ujian (bukan pencobaan), dimana dalam sekejap harta bendanya habis, anak-anaknya meninggal, isterinya pun mencela dia dan dirinya pun mengalami sakit yang mengerikan. Tapi setelah melewati semua proses itu Tuhan mengembalikan kepada Ayub dua kali lipat (Ayub 42:10).

Mat. 16:21-25; saat Tuhan Yesus menceritakan tentang penderitaanNya dan bagaimana ia mati, Petrus menarikNya dan menegorNya (ay. 22). Ini juga yang kerapkali terjadi di gereja Tuhan, dimana kita mau menyingkirkan/menarik Tuhan dari apa yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan kita, bahkan kita menegor Tuhan. Kita menjadi orang yang lebih tahu dari Tuhan yang membuat kita lupa bahwa Dialah Tuhan, Sang Pencipta dan yang pasti lebih tahu atas setiap kita, manusia.

Mazmur 44:1-26; Berbicara Kerajaan Allah bukan berbicara tentang apa yang kelihatan mata jasmani, tapi memandang dengan mata hati kita.

Tahun 2007 ini, dengan banyaknya kasus-kasus baik itu kecelakaan, badai, gelombang dan alam, jika kita melihat dengan mata jasmani cenderung kita mudah untuk menghakimi orang lain. Tetapi ketika kita melihat dengan mata hati, kita akan mengerti bahwa dibalik semuanya ini ada maksud dan rencana Tuhan (ayat 23).

Ibrani 11:33-40; tidak semua orang yang dipanggil untuk menjadi ‘martir”, mati dengan penyiksaan karena memberitakan Injil. Tapi kita semua dipanggil untuh hidup sebagai seorang martir, maksudnya ialah dalam kehidupan kita matikan segala keakuan dan kedagingan kita.

Jangan cepat untuk menghakimi/menuduh orang lain! Lantas, apa sebenarnya makna penderitaan bagi kita orang-orang percaya:

1. Setiap penderitaan datang dengan pesan khusus dari Tuhan (Ayub 42:10); Ayub tahu bahwa dalam setiap masalah yang bertubi-tubi menerpanya, Tuhan punya berita khusus untuk terjadi sebuah pelipatgandaan dalam hidupnya. Jangan hanya menjadi orang yang MENGETAHUI Tuhan, tapi hendaknya kita menjadi orang yang MEMAHAMI Tuhan; orang yang mengalami Tuhan dalam hidupnya.

2. Kita tidak pernah belajar sesuatu yang baru tentang Tuhan kecuali melalui kesengsaraan atau penderitaan; Kej. 22, merupakan pertama kali muncul kata “worship” atau penyembahan. Penyembahan berarti dari hati memberi yang terbaik. Ketika Tuhan meminta ‘anak mukjizat’ Ishak, Abraham mentaatinya. Dalam setiap masalah/badai, ada pelajaran yang baru dari Tuhan.

3. Kesengsaraan bukanlah suatu kecelakaan, melainkan suatu pemberian yang harus dihargai. Karena jika diterima dengan wajar akan mendatangkan dan memberikan penghormatan, kemasyuran dan martabat kekal (Kej. 37:20). Yusuf yang mendapat mimpi untuk menjadi pemimpin tapi mengalami proses yang berliku. Dia harus melewati “sekolah 6-D”, yaitu: dibuang, dijual, dicobai, dikhianati, dipenjara, dan dilupakan. Baru setelah melewati semuanya itu, Yusuf mendapatkan promosi.

4. Tak seorangpun menjadi kudus tanpa kesengsaraan. Karena kesengsaraan yang diterima dengan wajar merupakan jalan kepada kemuliaan (Daniel 3:16-18)

Apapun badai/gelombang yang menghadang, jangan mundur itu yang akan memurnikan kita dan membuat kita menjadi semakin kudus, ini merupakan jalan menuju kemuliaan (ini yang disebut dengan, Kita lebih dari pemenang). Amin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s