GBI ROCK MAKASSAR

Representative of Christ Kingdom in Makassar

Jadilah Kehendak-Mu June 4, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana
3 Desember 2006

“Jadilah Kehendak-Mu”

Bacaan Firman Tuhan: Matius 6:9-13

Apa itu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR)? Yaitu Tuhan menyatakan diri-Nya di dalam setiap kita, umat-Nya. Dengan kata lain, kita mengalami Tuhan dalam kasih, kuasa dan kebenaran-Nya. Gereja akan mengalami kebangunan rohani jikalau gereja mau melakukan prinsip-prinsip Kerajaan Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin melihat ada banyak orang yang kelihatannya rajin berdoa, tapi tidak banyak mengalami perubahan (terobosan) dalam hidupnya. Hal ini lebih dikarenakan orang tersebut tidak hidup dalam prinsip-prinsip Kerajaan Allah. Timbul sebuah pertanyaan. Lantas siapakah yang dapat masuk dalam Kerajaan Allah? Dalam Matius 28:19-20, dijelaskan bahwa orang yang mau menjadi muridlah yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

M U R I D!

Dalam kapasitas kita sebagai warga Kerajaan Allah (yang juga menjadi Representative Of Christ’ Kingdom), kita memerlukan sebuah komunikasi dengan Kerajaan Allah yang disebut dengan Komunikasi Kerajaan (the Kingdom Communication). Yang menjadi syarat mutlak kebergantungan kita akan Tuhan, dalam menyikapi berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga, dan dalam pekerjaan/pelayanan, kalau hubungan (komunikasi) dengan Tuhan ini putus, maka kita akan “tersesat”, menjadi bingung, penuh dengan kekuatiran dan ketakutan.

Dalam Matius 6:9-13 ini kita dapati Tuhan mengajar tentang Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami ini sebenarnya merupakan juga doa apostolik. Doa apostolik hendaknya menjadi dasar atau fondasi dalam kehidupan kita orang percaya.

Adapun isi yang menjadi prioritas penting dalam Doa Bapa Kami adalah “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga,” (ayat 10). Jadi, dapat kita lihat betapa Yesus pun mengangap penting hal Kerajaan Allah ini (di dalamnya akan kita dapati Kingdom supply, Kingdom mentality, Kingdom power, Kingdom Authorithy, dan Kingdom Connection).

Lukas 17:21, “juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Kerajaan Allah datang dalam hidup kita jikalau kita membiarkan kuasa pemerintahan Kerajaan Allah menguasai seluruh/totalitas kehidupan kita. Kita dapat saja melayani pekerjaan Tuhan, tapi belum tentu kita melayani Tuhan. Contoh: kita dapat saja melayani sebagai pengkhotbah, pemimpin pujian dan penyembahan, singers atau apa saja dalam gereja; tapi di sisi lain kita juga banyak “menuntut” dari Tuhan. Orang yang melayani Tuhan adalah orang yang tidak punya hak lagi untuk menuntut, dendam, tersinggung atau kecewa, karena kita membiarkan seluruh pemerintahan Kerajaan Allah itu memerintah dalam kehidupan kita.

Ketika kita hanya melayani pekerjaan Tuhan (dan bukannya melayani Tuhan), hal ini dapat membuat kita terbentur, sakit dan sulit untuk bisa menerima pribadi-Nya, kehendak-Nya dan keagungan rencana-Nya. Akan tetapi, ketika kita melayani Tuhan, benturan itu tetap ada, tapi kita tahu di balik itu ada Tuhan yang berkuasa atas segalanya!

Tidak ada manusia yang tidak punya masalah, baik itu masalah pribadi atau keluarga. Masalah/persoalan itu justru akan “mengasah” kita menjadi lebih dewasa dalam menyikapi berbagai hal. Melalui masalah-lah, kuasa mujizat Tuhan dinyatakan.

Dalam Doa Bapa Kami ini kita jumpai 3 (tiga) kehendak yang merupakan fondasi/dasar tatanan kehidupan orang percaya :

  1. Kehendak Allah atas kehidupan jasmani/materi.

Sebagai orang percaya, seharusnya kita tidak mengalami yang namanya kelaparan (kekurangan/kemiskinan) sebab ada Kingdom supply dari Kerajaan Allah yang tidak pernah berkekurangan (more than enough). Yang kita lihat sekarang di mana-mana (khususnya dalam dunia perekonomian) ada banyak kekurangan, tapi orang-orang yang hidup dalam prinsip-prinsip Kerajaan Allah tetap ada berkat yang menyertainya. Tidak hanya itu, kita pun akan menjadi berkat sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Apa yang ada di sorga akan di suplai bagi kita (ke dalam dunia).

  1. Kehendak Allah atas kehidupan sosial

Kehendak Allah atas hidup sosial ini dimaksudkan agar kita membangun sebuah hubungan (relationship) dengan orang lain; mulai dari dalam lingkup keluarga, pergaulan, pekerjaan, pelayanan dan masyarakat. Bagi Allah, hubungan itu penting, sebab di sorga tidak ada hubungan yang terputus. Contoh hubungan yang terputus: mulai timbul kepahitan, iri hati, kecewa, marah, dll. Sejak manusia jatuh dalam dosa, hubungan manusia dengan Allah juga terputus; karenanya Yesus datang ke dalam dunia dengan misi untuk memulihkan hubungan yang terputus tersebut.

I Kor. 15:33, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Amsal 27:17, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Untuk dapat saling menajamkan, dua buah besi harus saling berdekatan/bersentuhan. Ini berbicara juga bahwa orang yang akan ‘menajamkan’ sesamanya, bukanlah orang yang jauh melainkan mereka yang keberadaannya sangat dekat/intim, bahkan orang-orang yang paling disayangi, misalnya: dalam keluarga antara suami dengan isteri, orang tua dengan anak-anaknya.

  1. Kehendak Allah atas kehidupan rohani

Di sorga tidak ada lagi pencobaan atau perkara iblis, sebab kehendak Allah yang berkuasa. Tidak ada lagi pencobaan, sebab pencobaan bukan datangnya dari Allah. Yakobus 1:13, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.”

Saat kita mengalami pencobaan/masalah maka kita dapat ‘menurunkan’ Kerajaan Allah hingga menguasai secara total kehidupan kita, yang akan memampukan kita untuk pada akhirnya dapat bertahan dan keluar sebagai lebih dari pemenang (Allah yang memberikan kemenangan itu bagi kita).

Kedaulatan Allah hanya dapat terjadi jika ada penyerahan secara total kepada-Nya. Artinya, kita tetap melakukan apapun kehendak Tuhan walaupun hal itu berbeda (bertolak belakang) dengan kehendak perasaan kita.

Memasuki tahun 2007, ada banyak hal yang kelihatannya tidak pasti dan tidak seperti perkiraan kita, tapi percayalah –dengan berserah secara total pada Tuhan– di akhir dari semuanya ini pastilah akan mendatangkan kebaikan bagi kita yang tetap berpegang padaNya.

Waktu yang sulit pasti berakhir,

tapi orang yang tangguh imannya pada Yesus

yang akan bertahan sampai akhir!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s