GBI ROCK MAKASSAR

Representative of Christ Kingdom in Makassar

CINTA MEMATAHKAN KUK June 4, 2008

Pdm. Jarot Wijanarko
12 Nopember 2006

“CINTA MEMATAHKAN KUK”

Bacaan Firman Tuhan: Ibrani 12:16-17

Dari bacaan di atas, kita mendapati dua nasehat didalamnya, yaitu: jangan cabul dan jangan memiliki nafsu rendah! Kita tidak membahas perbuatan cabul, sebab sebagai anak-anak Tuhan kita seharusnya sudah tidak melakukannya. Yang akan kita bahas adalah nafsu rendah.

Apa itu nafsu rendah? Nafsu rendah adalah menukar hal yang rohani dengan yang tidak rohani. Contoh: Esau yang memandang rendah hak kesulungannya dan menjualnya hanya untuk sepiring kacang merah. Atau, pada hari Minggu (atau waktu-waktu pertemuan ibadah lainnya) tidak beribadah karena ada urusan keluarga; bukannya urusan keluarga tidak penting tapi waktu itu telah dipersiapkan untuk ke gereja.

Berbicara tentang nafsu rendah, semua kita terlibat, baik itu jemaat maupun para hamba Tuhan. Alkitab memberikan contoh yang jelas. Musa diganti Yosua, Elia diganti Elisa, setelah itu seharusnya Gehazi menggantikan Elisa, tapi karena nafsu rendah Gehazi maka ia kena kusta (II Raja-raja 5:19b-27). Jika peristiwa ini dikorelasikan ke jaman sekarang ini, maka Gehazi (hamba Tuhan) meminta sumbangan (ke Naaman, yang baru saja dipulihkan Tuhan) dengan alasan untuk hamba Tuhan desa. Padahal semuanya itu untuk dirinya sendiri, dikuasai nafsu rendah (II Raja-raja 5:24). Gereja pun dapat terjerat nafsu rendah, misalnya membeli alat-alat sound system dari persembahan diakonia.

Contoh lainnya, imam Eli. Tuhan menegur imam Eli karena ia lebih menghormati anak-anaknya daripada Tuhan dan memandang loba persembahan bangsa Israel (I Samuel 2:29). Ini berarti melayani untuk mencari untung, sehingga lebih memilih tempat pelayanan yang dapat memberi persembahan kasihnya paling besar (prinsip untung-rugi).

Nafsu rendah dapat “menyerang” siapa saja, kapan saja. Para mahasiswa yang berteman dekat atau teman sekost yang diminta tolong mengabsenkan temannya. Orang tidak masuk diisikan daftar hadirnya, itu menipu! Sepertinya menolong orang, tapi itu nafsu rendah.

Apa akibat melakukan nafsu rendah ini?

Nafsu rendah bukan soal sorga atau neraka Alkitab menulis, “Saatnya (akan) mendapat berkat, ia ditolak!” Artinya, dapat berkat tapi tidak jadi. Contoh: sudah menang tender tapi proyek itu dibatalkan; sudah hamil tapi mengalami keguguran; sudah melahirkan tapi meninggal; sudah makan enak, pas dimakan keselek. Dapat berkat tapi tidak jadi.

Kejadian 27:34-40.

Kisah ini menceritakan tentang Ishak yang meminta Esau pergi berburu dan menghidangkan hasil buruannya seperti kegemarannya, setelah itu ia akan memberkati Esau. Tetapi Ribkah mendengar dan menyuruh Yakub, adik Esau mengambil berkat untuk kakaknya tersebut. Dengan berpura-pura sebagai Esau, setelah menyamarkan kulitnya dan mengenakan pakaian Esau – masuklah Yakub mendapati Ishak, ayah mereka, menipu ayahnya dan mencuri berkat yang disediakan untuk kakaknya tersebut. Tidak lama setelah itu, masuk jugalah Esau dengan membawa hidangan dari hasil buruannya, tapi berkat itu telah diberikan kepada adiknya, akibat tipu daya.

Yang kita pelajari di sini. Esau tidak membunuh, mencuri, merampok, atau berzinah; ia hanya memandang rendah hak kesulungannya. Banyak kita – saat sekarang ini – yang juga memandang rendah pelayanan. Sebuah dosa yang semua orang juga pernah melakukannya, bukan? Siapa di antara kita, semenjak lahir barunya ia tidak pernah merasa jengkel, kecewa, tidak berpikiran kotor, iri hati, curiga, hatinya lurus, penuh pengampunan dan sabar?

Kejadian 27:41

Berkat yang untuk Esau, dicuri adiknya. Ishak mengatakan bahwa ia akan menjadi budak dan mengalami hidup susah. Hal yang mengakibatkan Esau menaruh dendam dan berikhtiar untuk membunuh adiknya tersebut. Hal terakhir inilah yang membuat Yakub lari menuju Mesopotamia.

Setelah 20 tahun berlalu. Kembalilah Yakub dengan membawa keluarganya beserta seluruh kekayaannya yang didapati selama 20 tahun itu. (Pada Kejadian 30:25-43, dituliskan bagaimana Allah memberkati Yakub dengan luar biasa.)

Kejadian 33:1-8

Di tengah perjalanan pulangnya itu Yakub teringat akan ikhtiar Esau, kakaknya, dan ketakutanlah ia (Kej. 32:7). Jadi mulailah Yakub mengatur barisannya dengan maksud mendapat kasih (pengampunan) dari Esau, yang datang dengan diiringi empat ratus orang. 20 tahun yang lalu, Esau – akibat nafsu rendahnya – menerima kuk perhambaan dan mengalami hidup susah. Namun, karena ia berusaha dengan bersungguh hati, ia dapat melepaskan kuk itu darinya (bd. Kej. 27:40b dgn Kej. 33).

Buktinya bahwa Esau telah lepas dari kuk itu, ialah:

  1. lepas dari kuk perbudakan;

Esau diiringi 400 orang (Kej. 33:1), berarti ia menjadi peimipin,

Yakub sampai 7 (tujuh) kali sujud kepadanya, tidak hanya itu Yakub menyebut Esau dengan panggilan “tuanku” (ayat 8).

  1. lepas dari kuk ekonomi;

Yakub memang diberkati Allah luar biasa (Kej. 30:25-43),, tapi apa yang dimiliki Esau jauh lebih banyak (ay. 9).

Berkat Esau lebih banyak dari yang dimiliki Yakub!

  1. lepas dari kuk soal keluarga;

– (dalam Kejadian 36, Alkitab menulis satu pasal khusus tentang daftar keturunan Esau, yang sekali lagi, daftar keturunan Esau jauh lebih banyak dari keturunan Yakub).

Yang kita pelajari hari ini dari Kejadian 27:40 dan Ibrani 12:16-17, dapat disarikan sebagai berikut:

– Jika kita telah terlanjur melakukan nafsu rendah, yang mengakibatkan kita berdosa dan tidak kudus/tidak tahir, sehingga membuat kita tidak diberkati, kita masih dapat mengambil berkat itu kembali, bukan dengan mencucurkan air mata, melainkan dengan kesungguhan hati.

Esau menangis minta berkat dari Ishak tapi tidak mendapatkan, tapi dia telah berusaha dengan bersungguh hati dan ia dapat mengambil kembali berkat itu. Jadi, apa sebenarnya “berusaha dengan bersungguh hati” itu? Dalam Kejadian 33:4; ini tidak lain, yaitu MENGAMPUNI! Esaulah yang berlari mendapatkan Yakub, lalu mendapatkan Yakub, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka.

Bukti Esau lepas dari kuk perbudakan (balas dendamnya).

Begitu juga dengan kita, bukti kesungguhan hati kita dengan Tuhan hendaknya ada dampaknya (meluap keluar) dengan sesama.

Untuk MINTA AMPUN dibutuhkan KERENDAHAN HATI,

tetapi untuk MENGAMPUNI dibutuhkan KEBESARAN HATI.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s