GBI ROCK MAKASSAR

Representative of Christ Kingdom in Makassar

Giving mentality June 1, 2008

Pdt. Cornelius Wing
27 Agustus 2006

“GIVING MENTALITY”

Bacaan Firman Tuhan: Kisah 2:41-47

Christianity is a life style!

Yesus, Tuhan, datang bukan untuk membawa agama Kristen tapi Dia membawa Kerajaan. Artinya, adalah Yesus datang membawa sebuah gaya hidup yang bertentangan dengan gaya hidup dunia. Tidaklah mungkin untuk menaklukkan kota ini (memenangkan jiwa bagi Kristus), jika gaya hidup kita tidaklah sangat berbeda dengan gaya hidup dunia ini. Kekristenan adalah sebuah gaya hidup, bukan seperangkat peraturan agama atau ritual, setiap hari minggunya. Itu GAYA HIDUP!

Kisah 2:41 à Cara Hidup Jemaat Mula-mula.

Gaya hidup jemaat yang pertama mencengangkan dunia. Misalnya: tahukah Anda bahwa orang Yahudi itu pelit? Tapi yang luar biasa terjadi atas jemaat ini. Dimana saat Roh Tuhan turun atas mereka dan melingkupi mereka, ini yang terjadi : tiba-tiba di Yerusalem muncul sekelompok “orang aneh” yang juga Yahudi, yang mengalami lawatan Tuhan dan berubah gaya hidupnya. Dimana kelompok “orang-orang aneh” ini menjadi baik dan membagi-bagi harta miliknya (tidak pelit lagi).

Ayat 44-45, “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” Ini bukan program, tapi gaya hidup!

Dalam Kisah 4:32, kekuatan jemaat ini tidak lain adalah gaya hidup!

Yang membuat jemaat ini dapat mengubah kota, yaitu :

  1. ada roh Yesus Kristus (diantara mereka), dan
  2. punya cara hidup yang berkuasa.

Yohanes 2:14-17

Terjadi sebuah kejadian yang belum pernah terjadi disepanjang kitab Injil, dimana Yesus menjadi semarah ini. Timbul pertanyaan dalam benak kita, alasan apa yang membuat Yesus semarah ini. Alasannya adalah Yesus mendapati bait Allah digunakan sebagai tempat berdagang. (Perlu kita ketahui, bahwa halaman bait Allah di Israel disebut “Korg of the gentile” atau halaman untuk bangsa-bangsa lain). Halaman bait Allah, yang diperuntukkan bagi bangsa-bangsa lain itu, dimana seharusnya dipergunakan untuk misi dan memenangkan bangsa-bangsa lain, malah dipergunakan bangsa sendiei (bangsa Israel sendiri), untuk mencari untung.

Kita lihat sekarang ini, banyak orang hidup bersekutu dalam suasana bait Allah, misalnya : setiap hari Minggu kita datang bersekutu; tapi dibalik semuanya itu, dalam benak kita, ada motivasi lain, kita datang hanya untuk sekedar mencari untung. Contoh : kita datang bergereja, dengan maksud toko (tempat usaha kita) menjadi laris; atau untuk secepatnya menemukan jodoh semata. Atau bahkan alasan utama kita datang ke gereja, agar kita diberkati! Tidak ada bedanya gereja dengan gunung Kawi, bukan? Tapi kita menjadikannya seperti itu!

Yesus menjadi marah? Mengapa? Sedangkan Dia mengajar, jika ditampar pipi kiri, beri juga pipi kanan; dan mengampuni musuh kita serta berdoa untuknya. Apa yang membuat Yesus marah? Tidak lain, adalah kita datang padaNya dengan maksud mencari keuntungan semata. Cek motivasi kita. Apakah kita datang untuk give my best atau tidak?

Yesus tidak marah saat diriNya difitnah, dianiaya dan disiksa; justru untuk itulah Dia lahir (Chris Manusama, 20 Agustus ‘06), tapi Dia marah dikala dijumpai kita datang padaNya dengan maksud memuaskan keinginan kita yaitu mencari untung (mementingkan diri sendiri). Kita cenderung untuk mencari untung daripada KerajaanNya, tapi Alkitab mengajarkan bahwa carilah KerajaanNya terlebih dahulu, maka tambahan itu akan mengikuti (Mat. 6:33). Inilah waktunya, dimana gereja tidak hanya memandang “tanganNya” tapi pandang wajahNya.

Gereja mula-mula telah tahu hal ini, dimana mereka telah mengalahkan roh materialistis sejak awal. Kita lihat pada jaman Kisah Para Rasul awal, mereka sudah buktikan dengan memberi secara habis-habisan (ini sebuah gaya hidup). Makanya materialisme tidak …. kehidupan gereja mula-mula. Selain kasus Ananias dan Safira (Kisah 5), tidak terjadi kasus yang besar. Hanya karena menyembunyikan sebagian hasil penjualan tanah itu, suami-isteri ini meninggal. Wow!

Tiga nilai/prinsip/paradigma yang menjadi motifasi terkuat dalam gaya hidup memberi, yaitu :

  1. Memberi adalah tanda utama mengasihi (Yohanes 3:16).

Tanda orang mengasihi adalah memberi, sebab tidak mungkin kita mengasihi tanpa memberi. Kita dapat memberi tanpa ada rasa mengasihi, tapi tidak mungkin kita mengasihi tanpa memberi (atau juga pengorbanan).

Paul J. Karam, seorang pengajar Kekristenan Sejati, mendefinisikan Kasih adalah: tidak mementingkan diri sendiri. Alkitab menulis, Kasih itu sabar, murah hati, lembut; seperti tertulis dalam I Kor. 13:4-7. jadi, Kasih itu tidak mementingkan diri sendiri. Mother Theresa, mengatakan, “Kasihlah yang menjadi alasan saya berada disini, yang membuat saya tidak memiliki lagi apa yang harus saya berikan!” Mother Theresa memberikan segalanya sampai tidak ada lagi yang bisa diberikannya. Alasannya hanya satu : kasih.

Dalam I Kor. 13:3, bukti memberi tanpa kasih, Alkitab mengatakan tidak ada faedahnya! Karena memberi tanpa ada faktor kasih didalamnya, itu tidak lain dari sekedar aktifitas sosial belaka. Intinya, cara Allah memenangkan dunia yaitu dengan kasihNya (memberi). Jadi, jika kita ingin memenangkan kota ini, mulailah dengan gaya hidup memberi (tunjukkan Kasih itu). Manifestasinya adalah memberi.

  1. Memberi adalah rahasia bahagia Makarios.

Makarios adalah bahagia yang dari dalam dan tidak tergantung faktor luar apapun. Banyak orang Kristen berpikir (paradigma), bahagia adalah makin banyak harta makin bahagia. Tapi, Alkitab punya ukuran bahagia, seperti yang tertulis dalam Kisah 20:35,” Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Jadi, kunci/ukuran bahagia yang dimaksudkan adalah : bukan menerima lebih banyak lagi tapi melepaskan lebih banyak lagi! Kalau kita mengerti akan hal ini, kita tidka lagi bertanya, “Apa lagi Tuhan?”, tapi “Mengapa? Mengapa saya memiliki semuanya ini? Mengapa saya mempunyai uang, rumah yang besar dan lainnya? Mengapa?

Saat kita sangat kaya tapi sangat pelit, sebenarnya kita belum menjadi sangat kaya! Itu bukan gaya hidup Kerajaan.

Paradigma yang benar akan membawa perilaku yang benar. Semua orang yang berperilaku salah, karena paradigmanya salah. Orang menjadi pelit, juga karena paradigmanya salah tentang gaya hidup Kerajaan (memberi). Jadi, bahagia kita itu karena memberi ataukah menerima?

  1. Memberi adalah pintu gerbang kepada pewahyuan Jehovah Jireh.

Jehovah Jireh artinya : Tuhan mensuplai kebutuhan, Tuhan menyediakan semuanya. Kapan untuk pertama kalinya, nama Jehovah Jireh ada? Nama ini muncul setelah ada tindakan memberi yang radikal dari Abraham. Pertanyaannya apa yang Abraham berikan? Ishak, anaknya (Kej. 22). Lalu Tuhan menyediakan gantinya seekor domba jantan.

Hari ini, banyak kita hanya mengejar penyediaan Tuhan atau nama Jehovah Jireh tanpa memasuki gaya hidup pengorbanan (memberi). Tidak ada pewahyuan dan pengalaman Jehovah Jireh yang sejati dalam hidup kita, tanpa hati memberi yang radikal. Pastikan dirupiah paling kecilmu, engkau punya sasaran cinta dan pemberian.

GIVE YOUR BEST FOR GOD!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s