GBI ROCK MAKASSAR

Representative of Christ Kingdom in Makassar

Menang Atas Dosa May 31, 2008

Pdt. Heryanto Saudi M.Div
28 Mei 2006

”Menang Atas Dosa”

Bacaan Firman Tuhan: Yohanes 20:19-23

Tahukah kita, masalah terberat dalam hidup kita itu apa sebenarnya? Masalah terberat bukanlah sakit penyakit, sebab kita tidak akan masuk neraka karena penyakit. Masalah terberat bukanlah kebangkrutan dalam usaha, sebab kita pun tidak akan masuk neraka karena bangkrut. Tapi masalah terberat dalam hidup adalah ”Dosa”. Dosalah yang menyebabkan hubungan manusia dengan Allah, terputus! Dan upah dosa ialah maut (Roma 6:23a). Namun, Allah telah memberikan otoritas kepada orang percaya untuk menyelesaikan masalah dosa tersebut. Dalam ayat 23,”Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Kita yang adalah manusia biasa oleh Allah diberikan otoritas / kemampuan / kuasa hal ini.

Suatu waktu dalam pelayanan Yesus, ada seorang wanita yang membawa sebuah buli-buli berisi minyak narwastu yang mahal harganya; datang dan mengurapi Yesus. Lalu Yesus berkata, ”Dosamu sudah diampuni.” Atau juga pada kasus ketika Tuhan Yesus menyembuhkan seorang yang lumpuh, Tuhan pun berkata akan hal yang sama, ”Dosamu sudah diampuni.” Kedua hal ini membuat orang-orang protes. Baik dari abad pertama dan abad-abad selanjutnya, dosa tetap merupakan hak mutlak / otoritas penuh Allah. Sebab hanya Allahlah yang berhak / berotoritas melakukan sesuatu atas dosa itu.

Tetapi ayat ini menyatakan bahwa jika kita (orang percaya) mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, sebaliknya jika menyatakan dosa orang tetap ada, maka dosanya tetap ada. Artinya, orang percaya itu punya kekuatan/kuasa/ berkata tidak untuk dosa, menghindar dan menolak dosa, untuk menjauhi dosa dan meninggalkan dosa itu.

Jadi, jikalau ada orang yang mengaku orang percaya pada Yesus, tapi tidak bisa berkata tidak pada dosa (meninggalkan dosa), hal ini tentu merupakan hal yang “aneh” bukan? Tapi bukankah kalau kita cermati, memang ada orang yang sudah Kristen berpuluh-puluh tahun tapi masih jatuh, jatuh dan jatuh lagi dalam dosa. Ternyata ini bukan semudah membalikkan telapak tangan. Lantas siapa yang salah kalau begitu? Apakah Tuhan yang salah? Tentu tidak!

Hari ini, kita akan belajar bebrapa hal penting untuk kita (orang percaya) punya otoritas atas dosa, yaitu :

  1. (Ayat 19). Ketakutan selalu membuat pintu kehidupan menjadi terkunci. Hubungan kita dengan dunia luar (interaksi, relasi) akan tertutup. Apapun itu akan membuat kita menjadi takut, seperti takut akan masa depan, keamanan, jodoh, tidak dapat pekerjaan dan lain sebagainya.

Tetapi ketahuilah, ketakutan bukanlah datangnya atau anugerah dari Tuhan. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan. Ketakutan akan selalu menghambat aktivitas kita. Ketakutan akan selalu membatasi ruang gerak/pelayanan kita. Ketakutan tidak pernah membawa kita pada kemenangan. Bukankah Alkitab menulis Allah di pihak kita dan jika Allah di pihak kita siapakah lawan kita? (Roma 8:31).

Dalam hidup ini banyak hal yang dapat membuat kita ”takut’. Ketakutan semacam ini hanya akan mengurung kita dalam suatu ruangan yang sempit dan membuat kita tidak bisa mengembangkan potensi yang sudah Tuhan taruh dalam setiap kita, manusia.

  1. (Ayat 19b-20). Ketika Tuhan Yesus masuk dan memperlihatkan bekas luka di tubuhNya, murid-muridNya bersukacita. Maksudnya adalah Yesus mau setiap kita melihat penderitaan karena salib itu bukan merupakan hal yang membawa ketakutan tapi sukacita. Berapa banyak kita tidak mengalami berkat Tuhan, ketika Tuhan membawa kita ke dalam dimensi yang lebih tinggi lagi dari rencana Allah, mereka ini menjadi takut. Sebab untuk dapat masuk ke dalam dimensi yang spektakuler dari penyataan Allah, diperlukan adanya harga yang mahal (harga salib). Dalam pengiringan akan Tuhan (termasuk dalam pelayanan kita) ketika menghadapi ujian / masalah, apa yang kita lihat? Apakah yang kita lihat (fokus kita) hanya pada ujian/masalah itu saja, ataukah kita melihat Tuhan di balik semuanya itu. Kalau kita dapat melihat Tuhan melampaui masalah itu, kita akan mendapat berkat dua kali lipat (dobel porsi).

Haleluya! Ini yang membuat murid-murid bersukacita, karena mereka melihat melampaui penderitaan salib Kristus. Tuhan Yesus sendiri lebih besar dari setiap masalah yang kita hadapi!

  1. (Ayat 21). Damai artinya “keamanan, tenteram,” Sejahtera artinya “apa yang kita butuhkan disediakan; kecukupan, kelimpahan.” Berarti damai sejahtera artinya ”menikmati segala kelimpahan dari Tuhan di dalam kedamaian.” Inilah berkat bagi mereka yang tetap dapat melihat Tuhan dibalik segala persoalan dan kesukaran yang ada .Berkat lain adalah orang tersebut mendapat tugas sebagai utusan Tuhan. Mengapa? Sebab, pelayanan misi erat kaitannya dengan taruhan nyawa! Misi berhubungan erat dengan mengorbankan nyawa. Seperti, dalam sejarah misionaris di tanah Papua (atau Irian), ada begitu banyak orang misi yang meninggal atau dibikin ”babi guling” di sana. Juga di Kalimantan dan Toraja.

Ada tipe orang lain lagi, yang berpikir nanti kalau sudah tua, duduk di kursi roda, tidak produktif lagi; barulah mereka mau ikut terlibat pelayanan misi. Bukan saat sekarang ini, ketika sukses dalam genggaman, masih punya kekuatan dan produktif. Salah! Berkat, harta, kesehatan, kekuatan dan produktivitas itu semua merupakan alat transportasi untuk menjalankan misi Tuhan.

  1. (Ayat 22). Ada perbedaan antara Yohanes 20:22 ini dengan Kisah 2 (turunnya Roh Kudus) dan juga Kisah 1:8. disini tertulis, ”Terimalah Roh Kudus”, berarti mereka (para murid) langsung menerima Roh Kudus, sedangkan da;am Kisah 1:8, itu belum menerima. Penggenapannya baru terjadi dalam Kisah 2. jadi, apa yang di sini, adalah ”empusao”. Dalam Alkitab sendiri hanya ada 3 padanan kata empusao ini yaitu dalam Kejadian 2:7, Yehezkiel 37:9 dan Yohanes 20:22.

Orang yang telah mengalami empusao dalam hidupnya, akan setia dan rela menyerahkan hidupnya total untuk Tuhan. Ini merupakan teladan Tuhan Yesus, yang telah menyerahkan total hidupnya untuk manusia. Dan kita pun harus naik level lagi, tidak hanya di level empusao saja tapi meningkat ke pemenuhan Roh Kudus, menjadi saksi-saksi Tuhan. Jangan merasa cukup hanya sampai pada tingkat memberi, setia beribadah, membantu pekerjaan Tuhan. Kita harus bertumbuh sampai mengalami pencurahan Roh Kudus, yang memampukan kita menjadi tenaga misi yang memberitakan firman Allah secara progresifitas.

Dengan mengalami empusao (kebangkitan spirit dan roh kita) kita menjadikan hati, roh dan misi Yesus masuk dan menguasai hati, roh dan misi kita. Saat roh Yesus berpindah ke diri kita, otomatis PribadiNya, kehendakNya kemauanNya sama dengan diri kita (masuk dan menguasai secara totalitas dalam hidup kita).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s