GBI ROCK MAKASSAR

Representative of Christ Kingdom in Makassar

KRISTEN DI PUNCAK/KAKI GUNUNG? May 24, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana

13 Nopember 2005

KRISTEN DI PUNCAK/KAKI GUNUNG?

Dalam Kej. 22:1-19 kita temukan 3 orang yang berperan waktu Abraham pergi untuk mendaki Gunung Moria, yaitu Abraham, Ishak, bujangnya. Ketika mereka mendaki gunung, bujangnya tetap di bawah kaki gunung sedangkan Abraham dan Ishak mendaki Gunung Moria. Ayat 17-18, waktu Abraham dan Ishak mengalami hal-hal supranatural di puncak gunung, mereka tidak tetap tinggal di atas gunung tetapi kembali turun untuk memberkati bangsa-bangsa.

Salah-satu misi Rock Ministry adalah memperluas kerajaan Allah. Orang-orang yang berada di puncak gunung adalah orang-orang yang mau dipanggil dan mau mengambil keputusan untuk menjadi golongan orang-orang di atas gunung.

Dalam keristenan terdapat tiga golongan: 1) golongan yang hanya di kaki gunung (bujang Abraham), artinya anak Tuhan yang tidak mau maju, hanya diam di tempat; 2) golongan anak Tuhan yang hanya di lereng gunung, artinya kadang kala naik tapi tidak sampai di puncak gunung, 3) golongan yang Tuhan inginkan, yaitu golongan orang yang sampai di puncak gunung. Untuk bisa naik ke puncak gunung kita pasti harus melewati proses melalui masalah yang Tuhan izinkan sehingga iman kita semakin teguh.

1. Ciri-ciri Golongan orang di kaki gunung dan di lereng gunung adalah:

a. Matius 14:13-21 > Yesus memberi makan lima ribu orang. Ada banyak orang senang menerima berkat, mujizat, dan pemulihan tetapi tidak ada kerinduan untuk dimuridkan dan menjadi berkat untuk orang lain.

b. Matius 27:32 > Simon dari Kirene, dia datang membantu waktu melihat Yesus jatuh saat memikul salib. Apa yang dilakukan Simon sepertinya baik, tetapi dilakukan karena dorongan lingkungan. Sering kali kita mengambil bagian dalam pelayanan hanya karena pengaruh lingkunggan atau kondisi yang mendesak. Kitapun kadang ke gereja hanya karena kita keturunan kristen.

c. Markus 8:15 > Raja Herodes menghalalkan segala macam cara untuk kepentinggan pribadi. Ada banyak orang yang senang mendengarkan Firman hanya untuk menambah pengetahuan sehingga bisa dijadikan bahan untuk adu argument dengan orang lain.

d. Matius 16:11 > Orang Saduki, tidak percaya firman Tuhan, hatinya penuh dengan kebimbanggan.

e. 1 Korintus 5:1,7 > Ragi Korintus, ada penyimpangan seksual, tidak memiliki rasa takut pada Tuhan.

f. Galatia 5:9 > Ragi Galatia, orang yang percaya Yesus Tuhan tetapi juga percaya pada adat istiadat, tradisi yang menyimpang dari kebenaran.

2. Golongan orang yang naik ke puncak gunung.

  1. Kejadian 22:3 > Orang yang mengutamakan Firman lebih dari segala-galanya dan menjadi pelaku-pelaku Firman (Yoh. 6:1; Maz. 119:105; 1 Yoh. 2:25; Yak. 1:23-24; Ef. 6:17). Kita tidak akan bertumbuh jika tidak hidup dalam Firman (1 Pet. 2:2). Maz. 19:8, “Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa;…”. Mengetahui Firman/kehendak Allah adalah ilmu yang tertinggi. Mengenal kehendak Tuhan adalah penemuan yang paling besar. Melakukan kehendak Allah adalah karya yang paling agung. Ketika Abraham dan Ishak naik ke atas gunung pasti ada saja yang menghalangi perjalanan mereka. Mungkin ada batu, kerikil dan semak-semak, tetapi karena mengutamakan Firman lebih dari segala-galanya maka sampailah mereka di puncak Gunung Moria.
  2. Kej. 22:6 > Orang yang punya gaya hidup berkomunitas (bekerja sama). Abraham tidak akan bisa mendaki sampai ke puncak gunung kalau tidak bersama dengan Ishak. Demikian juga halnya dengan Ishak Kita pun demikian, seorang suami tidak akan bisa tanpa istri dan anak-anaknya. Kej. 1:26 “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Ini adalah gambaran Bapa, Anak, Roh Kudus. Ams. 6:6-8 > semut bekerja sama; Yoh. 17:23 > Yesus berdoa supaya kita bersatu.
  3. Kej 22:11-12 = Orang yang dikenal Allah.

1 Kor. 8:3 “Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah”. Orang yang mengasihi Allah adalah orang yang memiliki gaya hidup yang selalu mengampuni, artinya kita harus selalu memberitakan Injil kasih karunia melalui hidup kita. Misalnya, ketika kita memiliki masalah dengan orang lain, kita harus menyelesaikannya dengan baik. Orang yang lebih dahulu mengampuni adalah pemenang. Jika kita tidak memiliki gaya hidup untuk selalu dikenal Allah, yaitu mengasihi dan mengampuni, melainkan hanya menghancurkan perbuatan baik dan hidup sebagai pendusta maka kita akan tetap dalam maut. 2 Tim. 2:9-10 > Orang kepunyaan Tuhan selalu rindu untuk orang lain di ubah Tuhan

Golongan orang yang di puncak gunung selalu melihat persoalan di bawah, bukan persoalan yang menghimpit/menenggelamkan kita, karena Yesus adalah jawaban dari semua masalah kita.

“Siapakah yang boleh naik keatas gunung Tuhan? Siapakah yang boleh naik berdiri ditempatnya yang kudus? Orang yang bersih tanggannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.”
(Maz. 24:3-4)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s