GBI ROCK MAKASSAR

Representative of Christ Kingdom in Makassar

DUA MACAM DASAR May 24, 2008

Pdm. Luther Dias

25 September 2005

DUA MACAM DASAR

Dalam Kej. 15:7-12 ada perjanjian antara Abram dengan Tuhan, dan dalam perjanjian itu ada korban darah. Pada waktu kita mendengar firman Tuhan dan mengambil keputusan untuk melakukannya, saat itu juga terjadi satu covenant/pengikatan janji dengan Tuhan. Ay. 9-10, “Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.” Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. Pada waktu binatang-binatang dipotong menjadi dua, yang satu ditaruh di sebelah kiri, satunya lagi ditaruh di sebelah kanan, otomatis darah ada di tengah-tengahnya dan wujud nyatanya dalam Perjanjian Baru adalah Yesus mati untuk kita, (Yes. 53:1-12), setiap tetesan darahNya adalah untuk membasuh dosa kita. Inilah satu perjanjian kekal bahwa Dia telah menebus hidup kita.

Pertanyaan buat kita apakah kita mau mendengar dan mau melakukan firmanNya? Dan ini adalah dasar dalam membangun kehidupan dengan Tuhan.

Ada 2 hal yang perlu kita waspadai dalam membuat satu covenant dengan Tuhan yaitu:

1. Ay. 11: roh-roh jahat (tipu daya iblis). Dikatakan bahwa pada waktu korban ditaruh oleh Abram, “burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu”, berbicara tentang roh-roh jahat. Iblis mencoba untuk menghalangi kita membangun hubungan dengan Tuhan, melakukan firman Tuhan, bahkan iblis memutuskan perjanjian dengan Tuhan. Iblis tidak menghalangi kita untuk menjadi aktifis rohani dalam satu denominasi, tetapi yang iblis tidak suka adalah pada waktu kita melakukan firmanNya. Iblis berusaha merebut korban-korban yang kita seharusnya bawa kepadaNya, yaitu hidup yang melakukan firmanNya sehingga hidup kita hancur dalam keputusasaan, kekecewaan, dan kegagalan. Abram dulunya adalah penyembah berhala, orang yang tidak berarti yang dijadikan berarti oleh Tuhan pada waktu Abram mendengar dengan iman, bertindak dengan iman, hidup oleh iman, melihat dengan iman, sehingga hasilnya adalah iman. Abraham melangkah dari iman kepada iman sehingga Abraham disebut bapa orang beriman.

2. Ay. 12,17: gelap-gulita (tantangan, masalah). Ketika tantangan datang, kita harus mengambil posisi seperti Abram, yaitu ‘tertidur’, yang artinya rest in peace (tidur dengan damai). Tidak melihat persoalan menjadi suatu beban, tidak melihat tipu daya iblis menjadi perkara yang besar, tapi percaya akan firman dan janjiNya bahwa Tuhan pasti menolong kita. Tidur berarti juga kehidupan yang intim dengan Tuhan, dan memperbaharui kekuatan. Ada banyak orang yang tidak bisa tidur sewaktu dalam masalah. Tingkat stres meningkat. Berbeda dengan orang yang mendengar firman dan melakukannya, dia pasti memilih tidur dengan tenang, artinya diam dengan Tuhan/menantikan Tuhan.

Ada 2 sifat dasar dalam diri kita yang berdampak positif dan negatif dalam kita melakukan satu perjanjian dengan Tuhan, yaitu:

1. Sifat batu. Batu itu keras, tidak berubah, tetap kuat (mendengar dan melakukan = bijaksana). .Kej. 15:6: Abram tetap percaya bahwa pasti bukan hambanya, Eliezer, yang akan mewarisi seluruh janji-janji itu tetapi anak kandungnya sendiri. Ada banyak pertanyan yang tidak bisa kita jawab, hanya Tuhan yang bisa menjawabnya. Sifat batu adalah mendengar dan melakukan.
2. Sifat pasir. Pasir mudah berubah, tidak tetap (mendengar tapi tidak melakukan = bodoh). .Kej. 16:1-4: “Abram mendengarkan perkataan Sarai”. Sarai artinya suka bertengkar. Pertengkaran akan membuat iman kita luntur. Ini adalah gambaran dari diri kita. Ada waktu-waktu dimana kita bersemangat melayani Tuhan, ada waktu juga kita merasa lemah, jenuh. Akibat Abram lebih mendengar dan taat kepada manusia (istrinya) daripada kepada Allah yaitu dengan menghampiri Hagar (Kej. 16:7-12) lahirlah Ismail, yang menimbulkan banyak pertengkaran saudara. Seperti Firman Tuhan yang mengatakan tangan Ismail akan menentang saudaranya. Karena Abram tidak menunggu waktu Tuhan maka telah menghancurkan generasi-generasi selanjutnya.

Orang yang mendengar dan melakukan adalah orang bijaksana tetapi orang yang mendengar tapi tidak melakukan disebut orang bodoh. Orang bodoh tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah. Kej. 16:16, 17:1 ”Akulah Allah yang Mahakuasa, hiduplah di hadapanku dengan tidak bercela.” Menghampiri Hagar adalah perbuatan tercela (keinginan daging, mata, keangkuhan hidup). Ketidak taatan Abram juga menyebabkan hari-hari hilang dihadapan Tuhan. Bandingkan kej 16:16 umur Abram 86 tahun, dan kisah selanjutnya tercatat dalam kej 17:1 pada usia yang ke 99. Sebab itu pemazmur Musa berdoa dalam Maz. 90:12“ Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian hingga kami beroleh hati yang bijaksana”. Tuhan mencari hati yang bijaksana yang mendengar dan melakukan firmanNya.

Kita harus memiliki sifat Batu dalam melakukan satu hubungan dengan Tuhan seperti tertulis dalam 1 Kor. 3:10-13, “… Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus…”. Suatu saat nanti pekerjaan kita akan diuji. Entah kita bersembunyi atau menutup-nutupi, akan tiba harinya bahwa tidak ada yang dapat kita tutupi di hadapan Tuhan. Kalau kita dibangun diatas batu karang (ROCK), yaitu Yesus Kristus, kita pasti akan tetap kokoh bersama dengan Dia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s