GBI ROCK MAKASSAR

Representative of Christ Kingdom in Makassar

Mengelola Berkat Kerajaan September 19, 2008

Pdm. Jocis Halim

1 April 2007

Ada perbedaan besar antara memberikan perpuluhan dan mengembalikan perpuluhan. Pengertian memberikan perpuluhan adalah kita memberikan 10% kepada Tuhan dan sisanya (90%) merupakan milik kita. Atau dengan kata lain, bahwa sebenarnya semuanya (100%) tersebut adalah milik kepunyaan kita.

Ini berlawanan dengan konsep perpuluhan yang mengajarkan bahwa semua yang kita miliki ini merupakan kepercayaan dari Sang Empunya segala sesuatu. Atau, segala yang kita miliki (100%) adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada manusia. Lantas, mengapa Tuhan hanya meminta kita mengembalikan yang 10% saja? Sebab, kita, manusia, dipercayakan oleh Tuhan untuk menjadi pengelola! Oleh sebab kita adalah pengelola maka Tuhan beri kita yang 90%, sedangkan yang 10% kita harus mengembalikannya pada Tuhan, Sang Pemilik.

Maleakhi 3:10, Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”

Kita harus membawa seluruh persembahan persepuluhan ke dalam rumah perbendaharaan Tuhan. Rumah perbendaharaan itu tidak lain dari gereja lokal dimana kita berkomitmen di dalamnya, mendapat makanan rohani sehingga kita bertumbuh secara rohani.

Setelah yang 10% kita bawa seluruhnya ke rumah perbendaharaan Tuhan (baca: gereja lokal), maka kita dituntut untuk mengelola dengan benar berkat yang 90n% tersebut. Sebab kita tidak akan mengalami berkat kelimpahan seperti dalam Maleakhi 3:10 di atas, jikalau kita memang telah mengembalikan seluruh persembahan persepuluhan tapi disamping itu kita tidak bertanggung jawab dengan mengelola dengan benar berkat yang 90% tersebut.

Tuhan minta selain kita mengembalikan seluruh persembahan persepuluhan juga kita wajib mengelola dengan benar berkat yang 90% itu. Dan untuk mengelola dan mengendalikan kekayaan Kerajaan Sorga dibutuhkan mentalitas yang kuat. Pertanyaannya ialah ”Bagaimana (membangun) mentalitas yang kuta ini ada pada kita?” Jawabannya adalah mulailah taat dan jujur dalam mengembalikan persembahan persepuluhan kita kepada Tuhan. Mengembalikan perpuluhan kita itu merupakan tanda ketaatan dan kejujuran kita pada Tuhan.

Di atas dari segala hal di atas, ada satu tingkatan iman yang lebih lagi yang harus kita lakukan adalah KEJUJURAN dalam mengembalikan perpuluhan. Untuk mengakui perpuluhan adalah milik Tuhan, kita membutuhkan kerendahan hati. Untuk mengembalikan perpuluhan dibutuhkan kejujuran (integritas). Dan untuk hidup dalam kebenaran kita wajib melakukan kebenaran. Inilah nilai-nilai Kerajaan Sorga.

Markus 10:17-27

Dikisahkan ada seorang yang datang pada Yesus dengan kerinduan agar memperoleh hidup yang kekal. Ketika ditanya tentang hukum Taurat, orang muda ini dengan sigap menjawab bahwa ia telah melakukan semuanya sejak masa mudanya. Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku,(ay. 21). Mendengar perkataan itu, orang muda ini menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Seperti yang kita ketahui bahwa hukum Taurat terbagi atas 2 bagian, yaitu yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (hukum I-IV), dan yang mengatur manusia dengan sesamanya (hukum V-X). Jadi, maksud Yesus di sini adalah dengan menyuruhnya menjual seluruh harta bendanya dan memberikan kepada orang-orang miskin, tidak lain Tuhan menginginkan orang muda ini punya hubungan dengan Allah. Sebab baginya, harta bendanya menentukan pandangan manusia terhadapnya. Apa maksud Tuhan mengatakan hal tersebut di atas? Yang dikehendaki hanyalah totalitas pada Yesus.

Untuk dapat hidup dalam standar kebaikan manusia bukanlah sebuah hal sulit. Kita akan dikatakan baik jika kita dapat menolong orang lain. Dan bukankah banyak orang yang tidak percaya Yesus sekalipun dapat melakukan hal yang seperti itu, atau bahkan lebih baik? Apa maksud perkataan Yesus kalau begitu? Sebenarnya Tuhan sedang membawa anak muda kaya dengan sebuah pola pemahaman yang satu level lebih lagi tentang hubungan manusia dengan Allah. Dengan menyuruhnya menjual harta bendanya Tuhan lagi menyentuh area paling sensitif dari kehidupan orang muda ini. Dimana tidak ada satu orang pun yang dapat mengatakan hal itu, selain Tuhan sendiri.

Hal yang sama juga dalam kehidupan kita. Adakah hal-hal (atau area-area) ”sensitif” dalam kehidupan kita yang tidak ingin terjamah siapapun, baik itu manusia maupun Tuhan? Adakah hal-hal yang kita pertahankan atau ’tembok-tembok’ dalam kehidupan kita yang kita bangun untuk menutupi/membentengi ’area sensitif’ kita? Hal yang akhirnya membuat kita mengambil langkah sama seperti orang ini, dimana kita menjadi kecewa, sedih lalu pergi meninggalkan Tuhan. Kita mungkin tidak meninggalkan Tuhan, tapi kita menjadi orang percaya dengan standar manusia, yang biasa-biasa saja (tidak radikal), kompromi dan kehidupan percaya kita seperti ”Kristen kapal selam.” Yang muncul ke permukaan ketika Natal, Tahun Baru dan Paskah saja.

Kerinduan Tuhan tatkala kita mengikutiNya adalah biarkan Tuhan yang masuk dan menyelami seluruh kehidupan kita hingga ke area-area terdalam (tergelap/tersembunyi) dalam kehidupan kita; tempat dimana kita tidak ingin disentuh/diketahui bahkan orang yang paling kita kasihi sekalipun. Tuhan ingin masuk sampai ke area-area tersensitif kita.

Tuhan rindu berhubungan intim dengan manusia.

Orang muda ini menyadari bahwa pengendali kehidupannya adalah harta bendanya, dan responnya adalah dia tidak menginginkan Yesus menyentuh ’saraf pengendali’ ini. Hari ini sama, adakah ’saraf pengendali’ dalam kehidupan kita yang tidak ingin kita serahkan pada Tuhan? Saraf pengendali ini dapat berbicara tentang uang, gengsi, kesombongan dan harga diri kita. Sebab Tuhan menghendaki pusat pengendali dari totalitas kehidupan kita adalah Tuhan sendiri.

Apa yang terjadi jika Tuhan yang menjadi pengendali kehidupan kita? Habakuk 3:6, Ia berdiri, maka bumi dibuat-Nya bergoyang; Ia melihat berkeliling, maka bangsa-bangsa dibuat-Nya melompat terkejut, hancur gunung-gunung yang ada sejak purba, merendah bukit-bukit yang berabad-abad; itulah perjalanan-Nya berabad-abad.

Gunung dan bukit itu berbicara tentang: kesombongan dan ketinggian hati manusia. Yang Tuhan kerjakan selama berabad-abad adalah menghancurkan kesombongan manusia. Akan tetapi, orang yang mencintai Tuhan mudah merendah dihadapanNya. Ketika Tuhan menjadi pengendali kehidupan kita maka Tuhan menghancurkan kesombongan kita sehingga yang tampak dari kehidupan kita hanyalah Yesus. Amin!

 

Calling for The Poor

Pdm. Henry Parera

25 Maret 2007

Sinopsis kitab Lukas:

Pasal 1-4 = masa-masa persiapan,

Pasal 4:18-19 =deklarasi visi (tujuan utama kedatanganNya); bd, Yesaya 61:1-2,

Pasal 5-9= target audience, pengutusan murid

Pasal 10-24 = pengajaran Yesus

Data orang miskin dunia, yaitu:

Ø 1,9 miliar jiwa (didalamnya ada 230 juta jiwa yang beragama Kristen).

Ø Sekitar 3 milyar orang yang tidak memiliki sanitasi sederhana,

Data orang miskin Indonesia per Maret 2006 berdasar data World Bank. yaitu: 109 juta jiwa. Untuk Makassar, ada 70.160 keluarga yang masuk dalam kategori miskin (data sumber: BPS).

Dihadapan kita ada Lazarus-lazarus yang Tuhan tempatkan di kota dan bangsa ini secara khusus. Apakah secara kebetulan hal ini? Apakah juga secara kebetulan kita ada, dimana hidup dan berdiam, di bangsa ini?

Yesaya 60:2. Semua guncangan di alam jasmani paralel dengan yang terjadi di alam roh, dan semua yang terjadi atas bangsa kita ini akhir-akhir ini sebenarnya merupakan sebuah tanda (baca: pra-syarat) untuk terjadinya “tsunami” rohani (revival).

Amsal 31:8,9 Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka.”

Yesaya 1:17, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!

Orang miskin tidak bisa berbicara, tapi kita yang telah mengerti akan kebenaran, kitalah yang berbicara atas nama mereka. Sebab di hati orang miskin terletak kekayaan Allah.

Alkitab mengatakan, Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan,” (Ams. 11:24).

Tuhan datang untuk membebaskan yang tertawan, dan sebagai Representative of Christ’ Kingdom, kita dipanggil untuk memberikan pembebasan kepada orang-orang tertawan itu.

Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku,
untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;
dan Ia telah mengutus Aku
untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,
untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang

(Lukas 4:18-19)

 

Mengalahkan Midian

Pdm. Luther Dias

18 Maret 2007

Firman Tuhan: Hakim-hakim 7:1-18

Hari-hari ini, ada begitu banyak ketakutan ‘melanda’ bangsa ini. Sepertinya tidak ada ada ruang lagi untuk rasa aman itu dapat tinggal. Semua jalur transportasi pun juga tidak menjamin adanya rasa aman. Adakalanya Tuhan harus mengguncangkan segala sesuatunya agar kita datang dan mengandalkan Tuhan di atas segala-galanya.

Dalam kisah ini terjadi sebuah peperangan yang tidak seimbang antara Gideon dan orang Midian. Gideon berarti “cut down or up” atau menebang/memangkas. Dalam terjemahan Strong, Gideon berarti ‘warrior’ ataupenyerang/pejuang/prajurit’. Midian mengandung arti ‘perselisihan/percekcokan.’ Dan Amalek berarti ‘suka bertempur/berperang.’

Tuhan memanggil Gideon yang lemah dan bukan siapa-siapa, dipilih Tuhan untuk menebang perselisihan/percekcokan. Atau, untuk dapat mengalahkan perselisihan dibutuhkan seorang prajurit.

Ciri seorang prajurit adalah: seorang yang tunduk pada komandannya, tidak mudah menyerah, tidak memikirkan kehidupannya (percaya bahwa komandannyalah yang akan memkirkan hal itu).

Yohanes 15:2, Barangsiapa berbuah banyak ia dibersihkan (dipotong)….

(bd, tinggal dalam Aku ia akan berbuah banyak……)

Arti nama Gideon adalah:

  1. “cut down or up” berbicara tentang dipotong untuk berbuah banyak dan dipotong untuk dibuang ke dalam api. Adakalanya Tuhan perlu memotong/memangkas bagian-bagian dalam kehidupan kita agar kita dapat berbuah. Dan hal yang dipangkas ialah perselisihan dan percekcokan;
  2. “cut off” berbicara tentang memotong masa lalu. Tuhan sanggup memotong masa lalu kita sebab Dialah Alfa dan Omega (Yang Awal dan Akhir);
  3. “cut down to size” berbicara tentang diptong sesuai ukuran Tuhan. Sebelum kita bertobat kita hidup dalam kedagingan, hal inilah yang mau Tuhan potong sesuai dengan kehendakNya.

Cara Allah “memotong/memangkas” setiap manusia yaitu dengan “pisau/Firman Allah” (tuliskan ayat: Firman Allah adalah pedang bermata dua yang sanggup memisahkan roh dan jiwa).

Seringkali kita tidak mengalami kemenangan dan kelimpahan akibat dalam kehidupan kita, baik dalam keluarga, pelayanan atau juga pekerjaan masih terjadi percekcokan dan perselisihan.

Mazmur 133:1, sungguh alangkah baiknya…..

Tuhan senang dengan manusia yang hidupnya rukun! Dalam keharmonisan hubungan manusia Tuhan akan memerintahkan berkat-berkatNya dicurahkan (Unity à Annointing à Phrosperity). Tuhan mau agar kita hidup dalam satu-kesatuan untuk melihat perkara-perkara yang besar yang Tuhan nyatakan dalam kehidupan ini.

Bagaimana kita dapat mengalahkan Midian?

1. Jangan andalkan kekuatan kita (ay. 2-3).

Bukan karena banyaknya orang maka Tuhan memberikan kemenangan untuk Gideon dalam mengalahkan orang Midian dan Amalek. Bukan karena kekuatan bangsa Israel sebab Tuhan memilih orang-orang yang dikehendakiNya sendiri. Inilah “cut down to size” ukuran Tuhan yang menentukan segala sesuatunya.

Gideon berasal dari kaum terkecil dan juga orang yang paling lemah dalam keluarganya. Tapi ketika Tuhan bertemu dengannya Tuhan menyapa dengan sebutan “Hai orang yang gagah perkasa!”

Yeremia 17:5, „Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!

Kita akan terkutuk apabila: kita mengandalkan orang lain, andalkan kekuatan sendiri dan hati yang menjauh dari Tuhan.

Tetapi, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! (ay. 7)

Adakalanya Tuhan membuat situasi-situasi tertentu terjadi agar kita belajar pervaya padaNya, sebab ketika kita tidak belajar dari situasi tersebut maka kita akan kehilangan momentum-momentum.

2. Tuhan yang menyaring (ay. 4 & 7).

Orang yang takut tidak dapat mengikuti peperangan, sebab ketakutan itu mengecilkan kekuatan kita. Dan Tuhan yang akan menyaring – sesuai dengan caranya – orang-orang yang berkualitas untuk dipakai dalam mengalahkan musuh. Tuhan yang menyaring bagi Gideon bukan Gideon menyaring untuk Tuhan.

Dan tempat penyaringan itu di sebuah sungai. Sungai berbicara tentang berkat, pemulihan atau restorasi, dan perkara-perkara besar. Ujian pada satu tempat tapi menghasilkan dua kelompok orang, dari cara bagaimana mereka minum. Kelompok pertama adalah kelompok yang hanya mementingkan diri sendiri.

Ujian terberat kita bukan pada saat terjadinya kerusuhan/penderitaan/sakit, melainkan ujian kelimpahan. Ketika kelompok pertama minum, yang mereka lihat hanya bayangan mereka sendiri pada air sungai itu. Hari ini sama, banyak kita berselisih akibat kita hanya melihat diri sendiri. Kelompok yang kedua dipilih Tuhan sebab mereka mengambil air secukupnya dengan tangan mereka dan selama minum fokusnya tidak teralihkan. Berkat itu bonus bukan tujuan.

Berkat itu akibat kita menemukan Tuhan bukan tujuan!

3. Tuhan dapat berbicara melalui lawan yang datang pada kita (ay. 9-15).

Hal ketiga untuk dapat mengalahkan perselisihan/percekcokan adalah bahwa Tuhan dapat berbicara melalui situasi/kondisi. Tuhan dapat berbicara (hal penyataan kuasaNya) dapat melalui media apa saja, termasuk musuh kita (ay. 15).

Hari ini, ketika ada orang yang berselisih paham dengan kita, mulai peka (pasang telinga rohani kita) untuk mendengar apa yang hendak Tuhan sampaikan buat kita. Orang yang suka mendengar adalah orang yang selaras dengan dengan Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang mendengar Firman Tuhan dan melakukannya.

Segala apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, adakalanya Tuhan ciptakan untuk membuat kita serupa denganNya. Namun, banyak kita tidak dapat melihat kemuliaan Allah dibalik semua hal tersebut, akibat kita hanya memikirkan diri sendiri. Milikilah visi atau melihat jauh ke depan.

4. Lihat senjata yang ada di tangan kita (ay. 16 & 18).

Ketiga ratus orang ini dipersenjatai dengan sangkakala dan buyung kosong yang didalamnya ada suluh/pelita.

a. Sangkakala berbicara tentang doa, pujian-penyembahan, dengar Firman dan melakukannya. Hal inilah yang disebut juga mezbah ukupan dalam tabernakel Musa.

b. Buyung kosong. II Kor. 4:7, bejana tanah liat itu kita dan harta yang paling berharga adalah Yesus. Berarti kita inilah bejana tanah liat atau juga buyung kosong itu. Cara berperang Gideon adalah bahwa ketiga ratus orangnya tersebut harus memiliki fokus yang mantap. Mereka adalah orang yang dapat memperhatikan dengan baik.

Berbicara tentang kehidupan daging kita yang terus dihancurkan setiap saat, dan itu harus dimulai dari para pemimpin (Gideon) terlebih dahulu.

c. Ada suluh dalam buyung kosong; atau harta dalam bejana tanah liat/buyung. Ini berarti ada sesuatu yang luar biasa dalam kita tapi kedagiangan itu harus dihancurkan terlebih dahulu. Maksudnya adalah bahwa ada kebenaran Firman Allah dalam kita, tapi itu belum ‘tampak ke luar’ karena masih terjadi perselisihan dan percekcokan. Akibat mementingkan diri sendiri itu yang membatasi terang Tuhan bersinar dalam kita.

Hendaknya kita menjadi alat dan tujuan dalam tangan Tuhan.

Amin!

 

Jaga Hatimu

Pdm. Jocis Halim

11 Maret 2007

Bacaan Firman Tuhan: Matius 20:1-16

Ayat 1, “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.” Diceritakan pula bahwa ‘sang tuan’ ini mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya mulai dari pagi-pagi benar, pukul sembilan pagi, pukul dua belas siang, pukul tiga dan lima sore. Waltu-waktu ini merupakan waktu-waktu dimana bekerja. Bekerja dapat diartikan juga dengan menabur/memberi hidup kita. Dan seyogyanya (keadaan normal pada umumnya) orang bekerja adalah pada siang hari.

Setelah hari malam, maka tuan itu berkata kepada para mandornya untuk memanggil para pekerja-pekerja guna menerima upah. Malam hari berbicara tentang selesainya waktu untuk dapat bekerja dan menerima upah. Alkitab menulis bahwa mereka semua mendapat masing-masing satu dinar.

Dari kisah di atas, apa yang dapat kita pelajari?

  1. Pikiran Tuhan berbeda dengan pikiran kita.

Dunia mengatakan bahwa “what you give is what you get” (apa yang kamu beri itu adalah yang kamu dapatkan). Atau juga, bekerja lebih banyak maka akan mendapatkan upah lebih banyak. Namun, seringkali ada juga orang yang bekerja siang-malam (baca: workhaholic) tapi berkekurangan atau belum puas dengan hasil yang dicapai.

Dari kisah di atas, sepertinya kita mendapati adanya ketidakadilan. Tuan itu memberi upah yang sama untuk mereka yang bekerja dari pagi dan mereka yang masuk bekerja yang terakhir. Semua mendapat upah yang sama, satu dinar. Rasa ketidakadilan ini membuat pekerja yang masuk terdahulu menjadi bersungut-sungut. Tetapi tuan itu menjawab mereka, “Iri hatikah engkau karena aku murah hati?”

Dalam kehidupan kita pun, hari-hari ini, ada kita jumpai ketidakadilan-ketidakadilan dimana kita tidak dapat mengerti olehnya sehingga kita menganggap hal itu tidak normal (tidak lazim). Semuanya ini terjadi sebagai akibat dimana kita tidak mengerti apa maksud dan tujuan dari sang tuan pemilik kebun anggur ini?

Tuhan juga sama, Dia yang empunya segala sesuatunya dan Tuhan punya banyak cara untuk memberkati kita. Jangan hanya terfokus pada satu cara. Sebab dibalik semua “ketidakadilan” itu Tuhan menghendaki agar kita menjaga hati! Di atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita, hal terpenting yang Tuhan tuntut adalah kita dapat menjaga hati kita.

Mengapa kita harus tetap menjaga hati kita? Sebab hati adalah sumber motivasi kita. Manusia gagal menjaga hatinya bukan soal PHK (posisi, harta dan kedudukan), tapi akibat tidak dapat menjaga hati. Contoh: Yusuf. Mendapat mimpi yang luar biasa untuk menjadi pemimpin. Akan tetapi belasan tahun setelah mimpi itu datang, dirinya justru mendapatkan ketidakadilan-ketidakadilan (note: warta edisi … khotbah Pdt. Eluzai Frengky Utana tentang sekolah/ujian Yusuf tentang 6D+1D).

Ketidakadilan yang kita alami, sebenarnya cara Tuhan memurnikan hati kita.

  1. Perubahan akan terjadi dengan begitu cepat (ay. 16).

Ayat 16, “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.” Ini merupakan sebuah perkataan yang jelas dan penuh profetik.

Kita yang dahulunya berapi-api, yang selalu bicara tentang Tuhan dan yang mengasihi/mencintai Tuhan, namun ketika badai masalah itu datang menerjang atau ada guncangan kita pun mulai berubah setia.

II Tawarikh 29:11, “Anak-anakku, sekarang janganlah kamu lengah, karena kamu telah dipilih TUHAN untuk berdiri di hadapan-Nya untuk melayani Dia, untuk menyelenggarakan kebaktian dan membakar korban bagi-Nya.” Menjadi pilihan Tuhan merupakan sebuah kebanggaan, tapi justru inilah waktu dimana kita waspada dan jangan lengah. Musuh kita bukanlah darah dan daging, tapi musuh kita adalah iblis. Iblis punya banyak cara untuk mau menjatuhkan kita.

Contoh: Ayub. Saat anak-anak Allah datang menghadap Allah, iblis pun turut serta. Dan atas seijin Tuhan maka iblis menyerang Ayub dengan begitu hebatnya. Iblis menyerang 3 (tiga) sektor penting, yaitu: harta, keluarga dan ibadah Ayub. Menjadi orang pilihan Tuhan tidak serta merta semuanya akan mudah, tetapi apapun yang terjadi membuat kita semakin bergantung/melekat dengan Tuhan.

Biarlah sungguh pada hari-hari ini, kita boleh dapat menjaga hati kita dan melekat padaNya agar kita tidak salah dalam melangkah (baca: merespon), baik itu dalam perkataan, tindakan dan pengambilan keputusan. Semuanya itu kita lakukan semata hanya untuk menyenangkan hatiNya dan nama Tuhan dipermuliakan.

Mari, belajar menerima Firman Tuhan sebagai sebuah kebenaran dan kebutuhan! Amin.

 

Bahaya Persepsi Yang Keliru

Pdt. Eluzai Frengky Utana

4 Maret 2007


Bacaan: Kejadian 38:1-30

Yehuda berarti “Biarlah Dia, TUHAN, dipuji.” Keturunan Yehuda menghasilkan raja Daud, dan sampai ke Yesus Kristus, Tuhan. Kelahirannya menjadi kesukaan bagi ibunya (Kej. 29:35), memiliki nama yang harum, serta memiliki keturunan yang luar biasa sekalipun dalam perjalanan hidupnya ia jatuh juga dalam dosa.

Sebagai gereja Tuhan –hari-hari ini– apakah kita dapat terus mempertahankan iman percaya kita, seperti ketika kita lahir baru, tetap setia pada Tuhan sampai akhir?

Anak Yehuda yang pertama diberi nama Er (artinya: waspada), yang kedua, Onan (artinya: kuat), dan yang ketiga, Syela (artinya: permohonan). Nama mewakili karakter kita. Misalnya: Abram diganti menjadi Abraham (artinya: bapa segala bangsa, bapa orang beriman). Mengapa hal ini dapat terjadi? Sebab Abraham hidup dengan janji Tuhan, hidup dengan apa yang Tuhan berikan.

Cara pandang kita menentukan bagaimana respons kita. Cara pandang yang salah membuat Yehuda jatuh dalam dosa dimana ia meniduri menantunya sendiri.

Apa yang menyebabkan Yehuda dapat jatuh dalam dosa?

  1. Cara berpikir yang salah (ay.11, bd: Yoh. 12:3-6).

Seringkali cara pandang kita yang salah dikuasai oleh cara berpikir yang salah. Yehuda kuatir bahwa setelah kematian Er dan kemudian Onan, maka hal yang sama juga akan menimpa Syela. Karena itu Yehuda menyuruh Tamar untuk kembali ke rumah ayahnya. Di dalam Perjanjian Baru, Yudas memiliki persepsi yang salah mengenai apa yang dilakukan oleh Maria, yang dianggapnya sebagai suatu pemborosan. Cara berpikir yang keliru selain merusak diri sendiri juga merusak orang lain.

Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Solusinya adalah dengan memperbaharui cara berpikir kita, yaitu dengan cara memenuhi pikiran kita hanya dengan Firman Tuhan.

Akibat dari adanya pemulihan (solusi): 1) Yes. 26:3 à ada damai sejahtera; 2) Efesus 4:23-24 à mampu hidup dalam kesucian; 3) III Yoh. 1:2 à kesehatan yang prima; 4) Yoh. 8:31-32 à bebas dari perbudakan.

  1. Nazar/janji yang tidak ditepati (Pengkhotbah 5:3-6)

Hal kedua yang membuat Yehuda jatuh dalam dosa adalah nazarnya kepada Tamar untuk memberikan Syela, anaknya, menjadi suaminya ketika dewasa. Tetapi ia tidak menepatinya. Kita, jemaat Tuhan pun sama. Apakah ada nazar kita, baik kepada Tuhan atau juga kepada saudara-saudara seiman kita, yang belum kita tepati? Nazar/janji tidak dapat dibayar dengan apapun kecuali dengan ditepati!

  1. Panas hati (Mazmur 37:8).

Penyebab kandasnya iman kita dapat disebabkan suasana hati. Untuk dapat terjadi pemulihan, miliki gaya hidup mengasihi dan mengampuni serta melupakan.

Apa akibat Yehuda jatuh dalam dosa?

Kejadian 38:18, ”Tanyanya: “Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?” Jawab perempuan itu: “Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di tanganmu itu.” Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya.”

  1. Cap meterai, Efesus 4:30, “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.”

Ketika kita menerima Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat hidup kita, maka keselamatan itu menjadi bagian kita dan kita dimeteraikan oleh Roh Kudus. Akan tetapi, kita menjual meterai tersebut, yang artinya kita menjual pribadi Tuhan sendiri.

  1. Kalung, Amsal 3:3, “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,”

‘Leher’ berbicara mengenai hubungan. Kita menjual hubungan, yang adalah kasih dan setia kita dengan Tuhan. Dasar kita berhubungan bukan lagi atas dasar kasih dan setia, tetapi nafsu.

  1. Tongkat, Keluaran 4:2-3. Tongkat berbicara mengenai otoritas/kuasa/kepercayaan. Dan inipun dijual hanya karena nafsu (akibat memiliki pandangan yang salah).

Kejadian 38:27-30.

Tamar mengandung dan melahirkanlah 2 (dua) orang anak kembar, Peres (artinya: pelanggaran) dan Sera (artinya: matahari terbit).

Saat kita hendak memancarkan kehidupan seperti matahari terbit (Yesus), pasti kita akan mendapati pelanggaran-pelanggaran yang menghalangi. Ketika kita hendak memancarkan kehidupan Kerajaan Allah, maka akan muncul peres-peres yang akan menghambat bahkan menghalangi. Tetapi, jangan kuatir sebab ada “benang kirmizi” yang diikatkan pada tangan kita. Ada tanda Tuhan atas kita. Bersama Dia kita cakap menanggung segala sesuatu bahkan kita lebih dari pemenang! S E M A N G A T !!!

Amin.

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu
(Filipi 4:8).

 

Building Kingdom Generation

Pdt. Timotius Arifin

25 Pebruari 2007

FirmanTuhan: Kejadian 32:22-32

Allah kita adalah Allah yang memperhatikan generasi. Buktinya adalah Allah menyebut diriNya dengan sebutan Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.

Kisah ini terjadi ketika Yakub telah berumur 97 tahun. Ia pertama kali bertemu dengan isterinya ketika berusia 77 tahun, kemudian bekerja pada Laban, mertuanya selama 20 tahun, dimana Alkitab mencatat gajinya sebanyak 10 kali diganti.

Yakub memiliki beberapa arti, yaitu:

penangkap tumit; ketika Esau, kakaknya lahir tampak tumitnya dipegang oleh Yakub,

perekayasa,

penjegal, dan

penipu.

Kejadian 32:22,”Pada malam itu …” Setiap kita pasti akan berada pada situasi ini, dimana setiap apapun yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan. Yakub, 20 tahun sebelumnya. Ia menerima berkat dari ayahnya dan hak kesulungan kakaknya, dengan menipu.

Malam itu di tepi sungai Yabok, Yakub sendirian. Yabok berarti dikosongkan, dia akan mengosongkan atau bergulat.

Bagaimana kita memanifeskan Kerajaan Sorga di muka bumi? Dengan cara meminta intervensi dari kekuatan adikodrati di luar dunia untuk dapat menyelesaikan masalah yang ada di bumi ini, yaitu dengan berdoa (Kej. 32: 9-12). Maksudnya adalah bahwa Tuhan selalu mengosongkan seseorang sebelum memberkati dia (orang tersebut).

Pengalaman seperti ini tentu pernah kita alami, dimana hati, pengharapan, kepala, masa depan dan kepercayaan kita sepertinya kosong. Bukankah pada saat-saat seperti itulah orang baru berseru pada Tuhan? Perkataan ”lepaskanlah” dan ”bebaskanlah”, berasal dari ”Yahsya” akar kata dari ”Yeshua” atau ”Yesus”.

Pengertian doa tidak selamanya ”permohonan” tapi juga ”bergumul.” ”Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing,” (ay. 24). Dikatakan seorang laki-laki bergumul dengan dia (Yakub); kata ”laki-laki” Memiliki 4 sebutan dengan arti yang berbeda, yaitu:

Ø Adam = manusia dibandingkan dengan El-Lohim (Tuhan).

Ø Ish = laki-laki (seorang isteri/pasangan laki-laki : isya atau perempuan/laki-laki yang punya kandungan);

Ø Enos = adalah pria yang tidak dewasa, kekanak-kanakan, dikuasai hawa nafsu,

Ø Geber = atau pria yang dewasa, satu kata dengan perbuatan, punya integritas dan warrior, dan pahlawan.

Kata bergumul/bergulat berbicara tentang respon manusia yang berlawanan dengan perintah Tuhan, sehingga mengakibatkan kita ”terpental” sebab tidak percaya dengan Sang Jurumudi atas kehidupan kita.

Banyak kita menjadi stres akibat bergulat dengan Tuhan!

Setelah Tuhan mengganti nama Yakub. Nama adalah karakter! Jika kita mau diberkati maka kita wajib menjadi ciptaan yang baru. Nama Yakub diubah menjadi ”Israel”, yang memiliki arti ”Prince with God.” Israel sendiri berasal dari kata ”Sara-El” atau bergumul dengan El (Tuhan).

Maksud Tuhan ketika menanyakan nama Yakub adalah pengakuan. Yang Tuhan perlu adalah pengakuan. Mengaku dengan jujur, sebab dengan jalan demikianlah kita dapat menyesuaikan diri dengan Tuhan; dan bukannya sebaliknya. Tuhan Yesus memberi contoh tepat dalam doanya di taman Getsemani (Mat. 26:39,42,44).

Kej. 32:28, ”Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” Kata ”menang” berarti juga unggul (bahasa asli ”Yakol”). Dan menang terhadap manusia di sini adalah manusia enos, berarti kita menang terhadap benci, dengki, amarah dan hawa nafsu (kedagingan) kita. Semuanya itu dapat terjadi bukan karena kuat dan gagah kita, tetapi Tuhanlah yang memberi kemenangan atas semuanya itu bagi kita.

Kemudian Yakub menamai tempat itu Pniel atau wajahNya Tuhan. Berdoa berarti membelai wajah Allah.

Pada akhir hidup Yakub (Kej. 47:7), di usia 130 tahun dengan kaki yang pincang ia bersama Yusuf menghadap Firaun dan memohonkan berkat untuk Firaun. Dalam bahasa Inggris, ”And Jacob blessed Pharaoh, …” Dalam Ibrani 7:7, ”Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi.” Yakub tidak lagi meminta berkat tapi menjadi berkat dan memberkati raja paling besar pada jaman itu. Ini mengandung makna bahwa kita yang adalah perwakilan Tuhan di muka bumi dan yang juga memberkati raja-raja.

II Korintus 1:20 ”Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.”

Di dalam Kristus, semua janji Allah itu ”ya” dan respon kita adalah ”amin” untuk memuliakan Tuhan. Sebab ketika kita percaya akan setiap janji-janji Allah (amin) itu sama halnya dengan kita memuliakan Allah.

Amin!

 

Membangun Manusia Rohani

Pdm. Jocis Halim S.Th.

18 Pebruari 2007

Firman Tuhan: Lukas 15:11-32

Di gereja lokal ini, tahun 2007 adalah “Tahun Membangun”. Apa yang akan dibangun? Manusia Roh kita. Membangun bukan bicara soal yang tampak atau kelihatan dan menjadi besar, tetapi membangun juga berbicara ke dalam. Sebuah bangunan menjadi sempurna bukan karena model dan tampilannya yang indah, tapi memiliki pondasi yang kuat. Pohon yang kuat adalah pohon yang bertumbuh kedua arah, yang pertama bertumbuh ke bawah atau ke dalam: akarnya bertumbuh semakin dalam dan berhasil mengikatkan dirinya kepada batu besar. Yang kedua bertumbuh ke atas, ada batang pohonnya, daun-daunnya semakin rimbun. Inilah yang harusnya terjadi dalam kehidupan rohani kita. Kita bertumbuh ke bawah artinya semakin melekat, mengikatkan diri dengan batu karang itu, yaitu Tuhan Yesus. Yang kedua, bertumbuh ke atas, yaitu hasil kita melekat dan terikat dengan Yesus, maka kehidupan kita memberikan pengaruh yang benar sesuai firman Tuhan. Inilah yang dinamakan pertumbuhan rohani. Bertumbuh ke dalam bukan sebuah hal yang mudah, karena di dalamnya bertemu batu-batu kecil, tanah yang keras. Bertumbuh ke dalam membutuhkan keputusan dan keberanian untuk siap dibentuk, siap diarahkan dan mengikuti instruksi untuk sampai akhirnya melekat pada batu karang itu.

Lukas 15 :11-32

  1. Kehidupan Anak Bungsu.

Dikatakan bahwa si bungsu ini tinggal bersama-sama dengan ayahnya, dan tidak angin atau hujan, tiba-tiba si bungsu meminta haknya yaitu warisan, dan alkitab mencatat bahwa bapanya membagikan warisan. Kemudian si bungsu menjual warisan itu dan setelah itu pergi ke sebuah negeri yang jauh. Ia boroskan hartanya dengan berfoya-foya. Waktu habis semua hartanya, datanglah bencana. Untuk makan makanan babi saja, tidak ijinkan. Pertanyaannya mengapa ia meminta hak warisannya dan pergi ke negeri yang jauh ?

Gagal mengenal isi hati bapanya.

Ia tinggal dirumah dan dekat bapanya tetapi tidak tahu isi hati bapanya, inilah akar mengapa ia meminta hak warisan dan meninggalkannya. “Menjadi dekat bukan berarti dapat hidup seenaknya dan menghilangkan aturan dan hukum. Saat ia melanggar semua aturan bapanya, ia menjadi tersesat dirumahnya sendiri. Ia menjadi tidak nyaman dan mulai melihat keluar, bahwa diluar rumah bapanya banyak hal yang menyenangkan hatinya.. Gagal mengenal isi hati bapa menyebabkan si bungsu melakukan apa yang diingini hatinya sendiri. Jika ada suatu peristiwa yang terjadi pada kita, maka pertanyaan pertama adalah “Ada apa dengan Saya?” Hari ini Tuhan mau kita mengenal isi hatiNya dan percaya bahwa Tuhan menyediakan yang terbaik

Gagal mengenal apa yang menjadi kehendak bapanya.

Di rumah bapanya banyak orang yang bekerja. Mereka yang tinggal dirumah bapanya karena ada tanggung jawab, bukan karena suatu kedekatan yang berbeda. Kehendak Tuhan bukan berhenti pada tanggung jawab tapi memiliki kedekatan yang berbeda. Tuhan lebih tertarik pada apa yang ada dalam hati kita dari pada apa yang nampak keluar, karena yang di dalam adalah original, tidak dapat dipalsukan. Alasan apa pun yang membuat kita tidak dapat mengenal kehendak Bapa, tidak pernah membuat kita menjadi benar. Ketaatan kitalah membuat benar dihadapanNya.

Satu hal yang baik yang dapat kita contohi dari si bungsu dimana dia menyadari mengapa ditimpa masalah yang besar. Bagi kita yang telah melakukan sebuah kesalahan di masa lampau, mari datang dan selesaikan dengan Tuhan. ”Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia,” (Luk 15:20).

Tidak hanya itu, dikenakan jubah (melambangkan ada penyediaan lagi dari Tuhan, kebesaran); cincin (melambangkan ada perjanjian/ikatan); dan sepatu (melambangkan kebebasan/kemerdekaan melakukan kehendak Bapa).

  1. Kehidupan Anak Sulung.

Pribadi yang kedua adalah gambaran seseorang yang dekat dengan bapanya tetapi tidak mengenal identitas pribadinya. Si Sulung melakukan pekerjaan yang menyenangkan untuk bapanya tetapi menjadi kecewa dan marah pada Bapanya karena melakukan rencana yang diluar pikirannya. Ia tidak menyadari bahwa ia adalah anak Bapa, Bapa yang memiliki semua yang ada dalam rumahnya. Sulung mempunyai motivasi yang tidak jauh berbeda dengan si bungsu. Ia melakukan semua pekerjaan untuk menyenangkan diri sendiri. Ubah paradigma kita, mari melayani dengan motivasi menyenangkan hati Tuhan tanpa melihat siapa yang diuntungkan sehingga dapat melakukan semua tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Untuk melakukan hal ini, kita perlu berjalan dalam hukum kasih kasih karunia yaitu menerima apa adanya tanpa memandang ke belakang. Ada 5 tanda hati yang masih belum pulih.

Ada 5 tanda hati yang belum pulih, yaitu:

  1. saat ada orang yang lebih baik, mulai suka menceritakan kesalahan sesama tapi tidak mau mengakui kelemahan sendiri;
  2. jiwa, pikiran, perasaan dan kehendak kita terganggu saat bertemu dengan orang yang pernah menyakiti kita atau hati kita menjadi pahit;
  3. hati berbicara berbeda dengan apa yang dikatakan mulut, selalu punya alasan untuk membela diri sekalipun ditemukan kesalahannya, cenderung berbohong;
  4. sulit mengampuni/meminta maaf dengan tulus (tulus = melupakan, tidak mengingat atau membicarakan lagi);
  5. suka menyendiri karena takut terluka (trauma).

Jika kita tidak memiliki kedekatan yang berbeda dengan Bapa di Surga, maka apa yang pernah terjadi dalam hidup ini akan terulang kembali. Miliki kedekatan yang berbeda dengan Bapa Di Sorga.

Orang yang mengalami anugerah dan kebaikan Tuhan adalah orang lebih mudah mengoreksi dirinya sendiri daripada mengoreksi orang lain. Amin!

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.