GBI ROCK MAKASSAR

Representative of Christ Kingdom in Makassar

Bahaya Persepsi Yang Keliru September 19, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana

4 Maret 2007


Bacaan: Kejadian 38:1-30

Yehuda berarti “Biarlah Dia, TUHAN, dipuji.” Keturunan Yehuda menghasilkan raja Daud, dan sampai ke Yesus Kristus, Tuhan. Kelahirannya menjadi kesukaan bagi ibunya (Kej. 29:35), memiliki nama yang harum, serta memiliki keturunan yang luar biasa sekalipun dalam perjalanan hidupnya ia jatuh juga dalam dosa.

Sebagai gereja Tuhan –hari-hari ini– apakah kita dapat terus mempertahankan iman percaya kita, seperti ketika kita lahir baru, tetap setia pada Tuhan sampai akhir?

Anak Yehuda yang pertama diberi nama Er (artinya: waspada), yang kedua, Onan (artinya: kuat), dan yang ketiga, Syela (artinya: permohonan). Nama mewakili karakter kita. Misalnya: Abram diganti menjadi Abraham (artinya: bapa segala bangsa, bapa orang beriman). Mengapa hal ini dapat terjadi? Sebab Abraham hidup dengan janji Tuhan, hidup dengan apa yang Tuhan berikan.

Cara pandang kita menentukan bagaimana respons kita. Cara pandang yang salah membuat Yehuda jatuh dalam dosa dimana ia meniduri menantunya sendiri.

Apa yang menyebabkan Yehuda dapat jatuh dalam dosa?

  1. Cara berpikir yang salah (ay.11, bd: Yoh. 12:3-6).

Seringkali cara pandang kita yang salah dikuasai oleh cara berpikir yang salah. Yehuda kuatir bahwa setelah kematian Er dan kemudian Onan, maka hal yang sama juga akan menimpa Syela. Karena itu Yehuda menyuruh Tamar untuk kembali ke rumah ayahnya. Di dalam Perjanjian Baru, Yudas memiliki persepsi yang salah mengenai apa yang dilakukan oleh Maria, yang dianggapnya sebagai suatu pemborosan. Cara berpikir yang keliru selain merusak diri sendiri juga merusak orang lain.

Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Solusinya adalah dengan memperbaharui cara berpikir kita, yaitu dengan cara memenuhi pikiran kita hanya dengan Firman Tuhan.

Akibat dari adanya pemulihan (solusi): 1) Yes. 26:3 à ada damai sejahtera; 2) Efesus 4:23-24 à mampu hidup dalam kesucian; 3) III Yoh. 1:2 à kesehatan yang prima; 4) Yoh. 8:31-32 à bebas dari perbudakan.

  1. Nazar/janji yang tidak ditepati (Pengkhotbah 5:3-6)

Hal kedua yang membuat Yehuda jatuh dalam dosa adalah nazarnya kepada Tamar untuk memberikan Syela, anaknya, menjadi suaminya ketika dewasa. Tetapi ia tidak menepatinya. Kita, jemaat Tuhan pun sama. Apakah ada nazar kita, baik kepada Tuhan atau juga kepada saudara-saudara seiman kita, yang belum kita tepati? Nazar/janji tidak dapat dibayar dengan apapun kecuali dengan ditepati!

  1. Panas hati (Mazmur 37:8).

Penyebab kandasnya iman kita dapat disebabkan suasana hati. Untuk dapat terjadi pemulihan, miliki gaya hidup mengasihi dan mengampuni serta melupakan.

Apa akibat Yehuda jatuh dalam dosa?

Kejadian 38:18, ”Tanyanya: “Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?” Jawab perempuan itu: “Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di tanganmu itu.” Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya.”

  1. Cap meterai, Efesus 4:30, “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.”

Ketika kita menerima Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat hidup kita, maka keselamatan itu menjadi bagian kita dan kita dimeteraikan oleh Roh Kudus. Akan tetapi, kita menjual meterai tersebut, yang artinya kita menjual pribadi Tuhan sendiri.

  1. Kalung, Amsal 3:3, “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,”

‘Leher’ berbicara mengenai hubungan. Kita menjual hubungan, yang adalah kasih dan setia kita dengan Tuhan. Dasar kita berhubungan bukan lagi atas dasar kasih dan setia, tetapi nafsu.

  1. Tongkat, Keluaran 4:2-3. Tongkat berbicara mengenai otoritas/kuasa/kepercayaan. Dan inipun dijual hanya karena nafsu (akibat memiliki pandangan yang salah).

Kejadian 38:27-30.

Tamar mengandung dan melahirkanlah 2 (dua) orang anak kembar, Peres (artinya: pelanggaran) dan Sera (artinya: matahari terbit).

Saat kita hendak memancarkan kehidupan seperti matahari terbit (Yesus), pasti kita akan mendapati pelanggaran-pelanggaran yang menghalangi. Ketika kita hendak memancarkan kehidupan Kerajaan Allah, maka akan muncul peres-peres yang akan menghambat bahkan menghalangi. Tetapi, jangan kuatir sebab ada “benang kirmizi” yang diikatkan pada tangan kita. Ada tanda Tuhan atas kita. Bersama Dia kita cakap menanggung segala sesuatu bahkan kita lebih dari pemenang! S E M A N G A T !!!

Amin.

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu
(Filipi 4:8).

 

TEGUH MENGHADAPI BADAI September 17, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana

7 Januari 2007

Bacaan Firman Tuhan: Markus 4:35-41

Kisah ini dimulai, dimana Yesus mengajak para murid-muridNya untuk berlayar menyeberang. Dan saat berlayar itu terjadi badai dan ombak yang besar. Sebenarnya kita sedang diajarkan bahwa segala yang Tuhan perintahkan/tunjukkan semua itu tidak serta-merta mulus adanya (jalan by–pass) tapi juga ada badai/gelombang.

Jangan cepat menilai/menghakimi orang yang sedang mengalami masalah.

Ada hal yang tidak lazim terjadi, ketika ada taufan dan ombak yang besar menyembur masuk ke dalam perahu, di buritan kapal Yesus malah sedang tidur. Alkitab tidak menulis Yesus bahwa Yesus mengenakan mantel/jas hujan, tapi Alkitab menulis saat semuanya itu terjadi Yesus sedang tidur tenang. Artinya, saat kita melekat dengan Tuhan yang kita sembah, taufan/badai boleh saja dating menerjang, tapi denganNya ada KEAMANAN KEKAL.

Ayub 1:6-12; Ayub yang merupakan orang saleh dengan seijin Tuhan mengalami ujian (bukan pencobaan), dimana dalam sekejap harta bendanya habis, anak-anaknya meninggal, isterinya pun mencela dia dan dirinya pun mengalami sakit yang mengerikan. Tapi setelah melewati semua proses itu Tuhan mengembalikan kepada Ayub dua kali lipat (Ayub 42:10).

Mat. 16:21-25; saat Tuhan Yesus menceritakan tentang penderitaanNya dan bagaimana ia mati, Petrus menarikNya dan menegorNya (ay. 22). Ini juga yang kerapkali terjadi di gereja Tuhan, dimana kita mau menyingkirkan/menarik Tuhan dari apa yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan kita, bahkan kita menegor Tuhan. Kita menjadi orang yang lebih tahu dari Tuhan yang membuat kita lupa bahwa Dialah Tuhan, Sang Pencipta dan yang pasti lebih tahu atas setiap kita, manusia.

Mazmur 44:1-26; Berbicara Kerajaan Allah bukan berbicara tentang apa yang kelihatan mata jasmani, tapi memandang dengan mata hati kita.

Tahun 2007 ini, dengan banyaknya kasus-kasus baik itu kecelakaan, badai, gelombang dan alam, jika kita melihat dengan mata jasmani cenderung kita mudah untuk menghakimi orang lain. Tetapi ketika kita melihat dengan mata hati, kita akan mengerti bahwa dibalik semuanya ini ada maksud dan rencana Tuhan (ayat 23).

Ibrani 11:33-40; tidak semua orang yang dipanggil untuk menjadi ‘martir”, mati dengan penyiksaan karena memberitakan Injil. Tapi kita semua dipanggil untuh hidup sebagai seorang martir, maksudnya ialah dalam kehidupan kita matikan segala keakuan dan kedagingan kita.

Jangan cepat untuk menghakimi/menuduh orang lain! Lantas, apa sebenarnya makna penderitaan bagi kita orang-orang percaya:

1. Setiap penderitaan datang dengan pesan khusus dari Tuhan (Ayub 42:10); Ayub tahu bahwa dalam setiap masalah yang bertubi-tubi menerpanya, Tuhan punya berita khusus untuk terjadi sebuah pelipatgandaan dalam hidupnya. Jangan hanya menjadi orang yang MENGETAHUI Tuhan, tapi hendaknya kita menjadi orang yang MEMAHAMI Tuhan; orang yang mengalami Tuhan dalam hidupnya.

2. Kita tidak pernah belajar sesuatu yang baru tentang Tuhan kecuali melalui kesengsaraan atau penderitaan; Kej. 22, merupakan pertama kali muncul kata “worship” atau penyembahan. Penyembahan berarti dari hati memberi yang terbaik. Ketika Tuhan meminta ‘anak mukjizat’ Ishak, Abraham mentaatinya. Dalam setiap masalah/badai, ada pelajaran yang baru dari Tuhan.

3. Kesengsaraan bukanlah suatu kecelakaan, melainkan suatu pemberian yang harus dihargai. Karena jika diterima dengan wajar akan mendatangkan dan memberikan penghormatan, kemasyuran dan martabat kekal (Kej. 37:20). Yusuf yang mendapat mimpi untuk menjadi pemimpin tapi mengalami proses yang berliku. Dia harus melewati “sekolah 6-D”, yaitu: dibuang, dijual, dicobai, dikhianati, dipenjara, dan dilupakan. Baru setelah melewati semuanya itu, Yusuf mendapatkan promosi.

4. Tak seorangpun menjadi kudus tanpa kesengsaraan. Karena kesengsaraan yang diterima dengan wajar merupakan jalan kepada kemuliaan (Daniel 3:16-18)

Apapun badai/gelombang yang menghadang, jangan mundur itu yang akan memurnikan kita dan membuat kita menjadi semakin kudus, ini merupakan jalan menuju kemuliaan (ini yang disebut dengan, Kita lebih dari pemenang). Amin.

 

Jadilah Kehendak-Mu June 4, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana
3 Desember 2006

“Jadilah Kehendak-Mu”

Bacaan Firman Tuhan: Matius 6:9-13

Apa itu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR)? Yaitu Tuhan menyatakan diri-Nya di dalam setiap kita, umat-Nya. Dengan kata lain, kita mengalami Tuhan dalam kasih, kuasa dan kebenaran-Nya. Gereja akan mengalami kebangunan rohani jikalau gereja mau melakukan prinsip-prinsip Kerajaan Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin melihat ada banyak orang yang kelihatannya rajin berdoa, tapi tidak banyak mengalami perubahan (terobosan) dalam hidupnya. Hal ini lebih dikarenakan orang tersebut tidak hidup dalam prinsip-prinsip Kerajaan Allah. Timbul sebuah pertanyaan. Lantas siapakah yang dapat masuk dalam Kerajaan Allah? Dalam Matius 28:19-20, dijelaskan bahwa orang yang mau menjadi muridlah yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

M U R I D!

Dalam kapasitas kita sebagai warga Kerajaan Allah (yang juga menjadi Representative Of Christ’ Kingdom), kita memerlukan sebuah komunikasi dengan Kerajaan Allah yang disebut dengan Komunikasi Kerajaan (the Kingdom Communication). Yang menjadi syarat mutlak kebergantungan kita akan Tuhan, dalam menyikapi berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga, dan dalam pekerjaan/pelayanan, kalau hubungan (komunikasi) dengan Tuhan ini putus, maka kita akan “tersesat”, menjadi bingung, penuh dengan kekuatiran dan ketakutan.

Dalam Matius 6:9-13 ini kita dapati Tuhan mengajar tentang Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami ini sebenarnya merupakan juga doa apostolik. Doa apostolik hendaknya menjadi dasar atau fondasi dalam kehidupan kita orang percaya.

Adapun isi yang menjadi prioritas penting dalam Doa Bapa Kami adalah “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga,” (ayat 10). Jadi, dapat kita lihat betapa Yesus pun mengangap penting hal Kerajaan Allah ini (di dalamnya akan kita dapati Kingdom supply, Kingdom mentality, Kingdom power, Kingdom Authorithy, dan Kingdom Connection).

Lukas 17:21, “juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Kerajaan Allah datang dalam hidup kita jikalau kita membiarkan kuasa pemerintahan Kerajaan Allah menguasai seluruh/totalitas kehidupan kita. Kita dapat saja melayani pekerjaan Tuhan, tapi belum tentu kita melayani Tuhan. Contoh: kita dapat saja melayani sebagai pengkhotbah, pemimpin pujian dan penyembahan, singers atau apa saja dalam gereja; tapi di sisi lain kita juga banyak “menuntut” dari Tuhan. Orang yang melayani Tuhan adalah orang yang tidak punya hak lagi untuk menuntut, dendam, tersinggung atau kecewa, karena kita membiarkan seluruh pemerintahan Kerajaan Allah itu memerintah dalam kehidupan kita.

Ketika kita hanya melayani pekerjaan Tuhan (dan bukannya melayani Tuhan), hal ini dapat membuat kita terbentur, sakit dan sulit untuk bisa menerima pribadi-Nya, kehendak-Nya dan keagungan rencana-Nya. Akan tetapi, ketika kita melayani Tuhan, benturan itu tetap ada, tapi kita tahu di balik itu ada Tuhan yang berkuasa atas segalanya!

Tidak ada manusia yang tidak punya masalah, baik itu masalah pribadi atau keluarga. Masalah/persoalan itu justru akan “mengasah” kita menjadi lebih dewasa dalam menyikapi berbagai hal. Melalui masalah-lah, kuasa mujizat Tuhan dinyatakan.

Dalam Doa Bapa Kami ini kita jumpai 3 (tiga) kehendak yang merupakan fondasi/dasar tatanan kehidupan orang percaya :

  1. Kehendak Allah atas kehidupan jasmani/materi.

Sebagai orang percaya, seharusnya kita tidak mengalami yang namanya kelaparan (kekurangan/kemiskinan) sebab ada Kingdom supply dari Kerajaan Allah yang tidak pernah berkekurangan (more than enough). Yang kita lihat sekarang di mana-mana (khususnya dalam dunia perekonomian) ada banyak kekurangan, tapi orang-orang yang hidup dalam prinsip-prinsip Kerajaan Allah tetap ada berkat yang menyertainya. Tidak hanya itu, kita pun akan menjadi berkat sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Apa yang ada di sorga akan di suplai bagi kita (ke dalam dunia).

  1. Kehendak Allah atas kehidupan sosial

Kehendak Allah atas hidup sosial ini dimaksudkan agar kita membangun sebuah hubungan (relationship) dengan orang lain; mulai dari dalam lingkup keluarga, pergaulan, pekerjaan, pelayanan dan masyarakat. Bagi Allah, hubungan itu penting, sebab di sorga tidak ada hubungan yang terputus. Contoh hubungan yang terputus: mulai timbul kepahitan, iri hati, kecewa, marah, dll. Sejak manusia jatuh dalam dosa, hubungan manusia dengan Allah juga terputus; karenanya Yesus datang ke dalam dunia dengan misi untuk memulihkan hubungan yang terputus tersebut.

I Kor. 15:33, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Amsal 27:17, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Untuk dapat saling menajamkan, dua buah besi harus saling berdekatan/bersentuhan. Ini berbicara juga bahwa orang yang akan ‘menajamkan’ sesamanya, bukanlah orang yang jauh melainkan mereka yang keberadaannya sangat dekat/intim, bahkan orang-orang yang paling disayangi, misalnya: dalam keluarga antara suami dengan isteri, orang tua dengan anak-anaknya.

  1. Kehendak Allah atas kehidupan rohani

Di sorga tidak ada lagi pencobaan atau perkara iblis, sebab kehendak Allah yang berkuasa. Tidak ada lagi pencobaan, sebab pencobaan bukan datangnya dari Allah. Yakobus 1:13, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.”

Saat kita mengalami pencobaan/masalah maka kita dapat ‘menurunkan’ Kerajaan Allah hingga menguasai secara total kehidupan kita, yang akan memampukan kita untuk pada akhirnya dapat bertahan dan keluar sebagai lebih dari pemenang (Allah yang memberikan kemenangan itu bagi kita).

Kedaulatan Allah hanya dapat terjadi jika ada penyerahan secara total kepada-Nya. Artinya, kita tetap melakukan apapun kehendak Tuhan walaupun hal itu berbeda (bertolak belakang) dengan kehendak perasaan kita.

Memasuki tahun 2007, ada banyak hal yang kelihatannya tidak pasti dan tidak seperti perkiraan kita, tapi percayalah –dengan berserah secara total pada Tuhan– di akhir dari semuanya ini pastilah akan mendatangkan kebaikan bagi kita yang tetap berpegang padaNya.

Waktu yang sulit pasti berakhir,

tapi orang yang tangguh imannya pada Yesus

yang akan bertahan sampai akhir!

 

MENGALAMI PESTA RAJA SETIAP SAAT June 1, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana
1 Oktober 2006

”MENGALAMI PESTA RAJA SETIAP SAAT”

(Kingdom Party)

Berbicara tentang pesta, yang kita tahu pasti tentang pesta di dunia ini terbatas, tetapi ”pesta raja” itu tidak terbatas. Ini dimungkinkan karena adanya Kingdom Suplai. Adapun tujuan pertama Allah menciptakan manusia, adalah :

- agar manusia menikmati Kingdom authoriry dan Kingdom power.

- Kita tidak diciptakan untuk jadi hamba, tapi untuk dijadikan keluarga (family).

Yohanes 2:1-11

Ini berbicara tentang family. Berbicara tentang family berarti berbicara tentang dua pribadi yang dipersatukan (pria dan wanita). Jadi, untuk dapat mengalami pesta dalam keluarga kita, harus dimulai dari kesadaran yang dimulai dari pribadi terlebih dahulu. (Sebab pribadi yang sehat akan melahirkan keluarga yang sehat pula. Dan keluarga yang sehat akan melahirkan gereja yang sehat. Gereja yang sehat akan melahirkan kota yang sehat pula. Akhirnya, kota yang sehat akan melahirkan bangsa/negara yang sehat pastinya.) ini tidak lain dari transformasi itu sendiri, akibat mengalami pesta raja. Contoh : orang yang terikat kuasa gelap, mengalami kelepasan (deliverence); atau orang yang mengalami sakit, ketika mengalami pesta raja, akan mengalami mukjizat kesembuhan dalam dirinya.

Untuk dapat terus menikmati pesta (tidak mengalami kekeringan/kehabisan ”anggur”) itu, adalah :

  1. Ayat 2 à Yesus harus terlibat dalam segala perkara dan kita melakukan apa bagian kita.

Dalam setiap aspek kehidupan kita, pastikan libatkan Yesus di situ (entah itu ketika kita makan, berbicara, bekerja, berbisnis, dalam keluarga; semuanya libatkan Yesus). Dengan melibatkan Yesus berarti kita sadar Dia benar-benar ada dan dalam kesadaran akan keberadaanNya, kita tidak mungkin membiarkan Yesus seorang diri saja, tapi kita akan berdialog (ada komunikasi/hubungan terbangun à ini yang disebut Kingdom Connection.) dialog di sini bukan merujuk pada doa yang panjang-panjang dengan tata bahasa yang baik semata, tapi lebih ke doa yang penuh kuasa.

  1. Ayat 3 dan 5 à Jangan kita sombong!

Untuk dapat terus menikmati pesta, apapun kelebihan/kepintaran/talenta dan harta (uang); jangan membuat kita sombong. Ketika kita mulai sombong dengan kepintaran, uang, karunia atau bahkan khotbah kita, bisa dipastikan kita tidak akan mengalami pesta raja setiap saat. Sebab, kita tidak bisa membuat pesta raja dengan kekuatan/kemampuan kita, satu waktu kita pasti jatuh dan mengalami kekeringan/kehabisan ”anggur” itu. Setiap kita pasti membutuhkan orang lain. Mari, bawa hati kita melekat saja pada Tuhan, jangan sombong. Orang sombong, tidak percaya akan firman Tuhan. SEBAB ORANG YANG SOMBONG, SUATU WAKTU PASTI TERHEMPAS!

Apapun yang Tuhan percayakan kepada kita (baik itu kepintaran, harta/uang dan talenta) semuanya itu ada waktunya, jangan kita sombong. Tunggu waktuNya Tuhan.

  1. Ayat 6 dan 7 à Merendahkan hati kita, melayani kekotoran orang lain, bukannya menceritakan kesalahan orang/menggosipkan/menghakimi.

Setiap kita, manusia, pasti memiliki apa yang disebut dengan ”kelemahan.” Dan untuk tetap dapat menikmati pesta raja itu, kita harus melayani kekotoran orang lain. Teladan ini juga telah Tuhan Yesus berikan bagi kita, bahkan saat Dia berada di kayu salib. Salah satu dari 2 orang penyamun yang juga turut di salib (yang berada di samping kiri dan kanan Yesus), berkata ”Yesus, ingatlah akan aku, ketika engkau berada di Firdaus.” Yesus yang juga tersalib itu bisa saja tidak mengindahkan permintaan itu, tapi di sini Dia memberikan teladan dengan mengatakan, ”Hari ini juga engkau bersama-sama Aku di dalam Firdaus.”

  1. Ayat 8 dan 9 à Ujian penyerahan kita.

Untuk tetap dapat mengalami pesta raja itu tidaklah gampang, tapi hari ini Tuhan beri kita petunjuk, yaitu dengan adanya penyerahan hidup yang total padaNya. Penyerahan hidup secara total adalah sudah tidakada keraguan sama sekali terhadap apapun yang Tuhan katakan, itu pasti jadi, walau terkadang itu sepertinya tidak masuk di akal pikiran kita. Percaya saja. Only believe!

Itu yang tertulis dalam Ibrani 11:1, Iman. Ya, dengan iman kita dapat percaya pada apapun yang Tuhan bilang. Selama hati kita murni, Tuhan pasti percayakan hal-hal yang besar buat kita.

  1. Ayat 10 dan 11 à Hasil yang dari Tuhan pasti yang terbaik (the best).

Pesta raja itu pasti akan menjadi bagian setiap kita, yang mengasihiNya. Pada waktunya, ”anggur” yang terbaik itu akan disajikan kepada pemimpin pesta dan orang akan mengatakan ibi bukan suatu kebiasaan, dimana biasanya orang menghidangkan anggur yang baik dan sesudah orang puas minum, barulah anggur yang kurang baik, tapi kita menghidangkan anggur yang terbaik belakangan. Dimana anggur yang terbaik itu berbicara tentang adanya kesukaan Tuhan yang terpancar dari hidup kita, yang termanifestasikan lewat buah roh, seperti kasih, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan dan pengendalian diri).

Dengan memastikan Yesus terlibat dalam segala yang kita perbuat dan melakukan apapun yang menjadi bagian kita; bertanggung jawab dengan segala yang Tuhan percayakan bagi kita/tidak sombong; mau melayani kekotoran orang lain dengan merendahkan hati, dan juga ujian penyerahan kita, akhirnya pasti akan ada hasil yang the best dari Tuhan.

Hari ini, kita bertekad untuk tetap dapat menikmati pesta raja itu setiap saat. Itu yang Tuhan mau. Amin!

 

Ujian Penyerahan Hidup June 1, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana
3 September 2006.

Ujian Penyerahan Hidup

Saat kita merajakan Yesus dalam hidup (hati) kita, otomatis Kerajaan Allah (Kingdom) itu akan memenuhi hidup kita. kerajaan Allah ini bukan hanya soal perkataan tapi soal kuasa; bukan juga soal makan-minum tapi lebih soal kebenaran, sukacita, damai sejahtera oleh Roh Kudus. Jadi, ketika hidup kita dikuasai Kerajaan Allah maka Kingdom mentality itu pun memenuhi kita. Dan perwujudannya adalah: Kingdom power (kuasa kerajaan); yang tidak hanya bekerja dilingkup keluarga saja tapi juga antarbudaya; Kingdom authority (otoritas kerajaan); Kingdom community (komunitas kerajaan); Kingdom strategi (strategi kerajaan); dan Kingdom connection (koneksi kerajaan) serta Kingdom harmonious (Keharmonisan Kerajaan).

Kali ini, kita akan belajar bagaimana agar Kingdom itu terus terwujud dalam kehidupan kita, hari lepas hari. Ambil contoh, kita bisa hebat dalam pelayanan sebagai pengkhotbah misalnya, tapi dalam keluarga kita ada perpecahan/tidak harmonis; itu bukanlah Kingdom mentality. Atau juga, kita yang melayani di gereja anak. Kita bisa begitu hebat mengajar, tapi anak-anak kita tidak bisa diajar. Itu bukan Kingdom mentality tapi Church mentality. Sebab wujud Kerajaan Allah berbicara tentang HIDUP.

Matius 15:21-28, I Petrus 4:19.

Kingdom itu bukan agamawi. Sebab kingdom itu adalah kita percaya sepenuhnya, bahwa Yesus, Raja di atas segala raja itu pasti mengatur yang terbaik.

Dalam kisah di atas, kita dapati seorang wanita Kanaan datang kepada Yesus ketika Yesus berada di daerah Tirus dan Sidon. Wanita ini datang meminta kesembuhan akan anaknya yang sedang terbaring sakit. Ini seharusnya menjadi hal yang benar, sebab wanita ini datang ke sumber yang tepat. Tapi lebih jauh kita baca, justru terjadi hal yang tidak mengenakkan. Dimana Tuhan sama sekali tidak menjawabnya (ayat 23).

Dalam ayat 22, wanita datang kepada Yesus karena anaknya kerasukan setan dan sangat menderita. Kebenaran yang dapat kita ambil disini adalah Penyerahan hidup secara umum (natural). Contoh dalam kehidupan masa kini adalah ada yang mengalmi kebangkrutan usahanya, barulah datang mencari Tuhan dengan bersungguh hati. Contoh lain, ada yang keluarganya meninggal akibat sesuatu sebab, barulah datang mencari Tuhan. Itu umum (natural).

Untuk dapat terwujudnya Kingdom itu dalam kehidupan kita, kita harus melewati ujian yang Tuhan berikan. Kalau kita hanya masuk ke dalam ujian penyerahan hidup secara umum ini saja, kita tidak akan dewasa. Hal yang sama akan terjadi juga bagi ibu ini. Anaknya tidak akan sembuh, jika ibunya hanya sampai tingkat penyerahan hidup secara umum saja. Kita harus meningkat.

Ayat 23, ini berbicara tentang penyerahan hidup secara wajar (logis). Wanita ini datang kepada Yesus, tapi yang terjadi adalah Yesus sama sekalii tidak menjawabnya. Adalah hal yang wajar, dimana Yesus tidak mau menjawab. Hal yang wajar juga dimana wanita ini datang berteriak-teriak. Contoh lain, kita bertemu dan menyapa orang lain, lalu bersalaman dengannya, tapi orang tersebut tidak menaruh simpati kepada kita (tidak tersenyum dengan kita); itu adalah hal yang wajar. Kita tidak perlu kecewa hati dan marah. Adalah hak setiap orang untuk mau tersenyum atau tidak.

Kembali ke wanita ini, adalah wajar dimana Yesus tidak menjawabnya. Ini yang disebut dengan Penyerahan hidup secara wajar (logis). Sebenarnya, Tuhan lagi melihat apakah wanita ini tahan uji atau tidak. Seringkali kita sampai pada tingkatan menjadi kecewa dan mundur (hanya perihal tidak ada respon positif dari orang lain kepada kita). kita menjadi tersinggung dan pahit hati (jengkel). Kita tidak lulus pada tahap ini. Untuk bertumbuh adalah keputusan pribadi kita dengan Tuhan.

Kebenarannya adalah apapun masalah yang sedang kita hadapi, penyerahan hidup kitra masih di level umum dan wajar ini, jangan mundur, jangan kecil hati. Tapi terus maju dan fokus seperti wanita ini, hanya lihat Tuhan! Wanita ini tidak peduli apa kata orang (para murid) tapi malah terus mendekat pada Tuhan.

Hal berikut yang terjadi malah lebih tidak mengenakkan. Ayat 25, “Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Wanita ini disamakan dengan “anjing”. Itu bukan perkara yang mudah dan pasti tidak mengenakkan daging kita.

Kita sering gagal di level ini. Kita tahu kita benar, tapi kenapa kita masih saja dipersalahkan. Kita sudah melakukan sesuai Firman mungkin, tapi masih saja belum terjadi sesuatu apapun juga. Ini yang disebut dengan Penyerahan hidup secara ketidakadilan. Justru titik utama/penentu (final test) dari Kingdom bisa terjadi itu, ada pada tingkatan ini. Mengalami ketidakadilan tapi masih mau dekat dengan Tuhan atau tidak?

Wanita ini, mengalami masalah datang pada Tuhan, tapi malah Tuhan Yesus tidak menjawab, lalu para murid meminta Tuhan untuk mengusirnya, hingga diumpamakan seperti “anjing”, tapi tetap datang mendekat dan menyembah Tuhan. Itu yang membuat Tuhan Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh” (ayat 28). Kesembuhan terjadi karena Tuhan melihat iman ibu ini. (Catatan : Alkitab hanya mencatat 2 kali dimana Tuhan Yesus takjub dengan iman seseorang, satu wanita Siro-Fenisia ini dan satunya lagi seorang perwira di Kapernaun; baca Lukas 7:9 dan Matius 8:10).

Fokus Tuhan. Semuanya Tuhan. Sebab adakalanya, Tuhan minta kita hidup dalam penyerahan secara ketidakadilan. Ketika kita lulus tingkatan ini, itulah yang menyentuh hati Tuhan. Dan wanita ini. Oleh Tuhan, dinyatakan lulus pada tingkatan ini. Selanjutnya, ada Penyerahan hidup secara kerelaan. Jadi orang yang rela dengan Tuhan, pasti melewati tingkatan-tingkatan tadi dan mereka lulus. Baru dibilang “Besar imanmu!” Artinya orang ini bertekun dalam iman yang benar. Iman yang benar adalah dalam segala keadaan/ hal, tetap setia sampai akhir, walau yang tidak adil harus dialami.

Akhirnya anak itu sembuh. Tuhan berjanji bahwa dalam kehidupan kita bisnis kita akan pulih, keluarga dan apa saja Tuhan akan buat menjadi baik adanya. Kita akan menikmati apa yang Tuhan buat, pastikan bahwa hidup kita ada dalam KerajaanNya (Kingdom).

 

Percepatan Ilahi May 31, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana

2 Juli 2006

PERCEPATAN ILAHI

Bacaan Firman Tuhan: Kisah 9:19b-31

Pastor Benny Hinn, beberapa waktu lalu di Indonesia, menubuatkan bahwa dalam 3-4 tahun akan terjadi hal-hal yang sangat ajaib. Hal ini dapat berarti, akan terjadi yang namanya ”Percepatan Ilahi” atas bangsa dan negara ini. Hari ini, kita akan belajar bagaiman kita (baca = gereja Tuhan) dapat masuk dalam ”percepatan rohani” itu? Gereja Tuhan harus mulai mempersiapkan dirinya akan hal tersebut.

Dari bacaan di atas kita dapati bahwa Paulus (yang awalnya bernama Saulus, seorang yang menentang Jalan Tuhan à ayat 1-2); yang bukan merupakan kedua belas rasul (12 murid TuhanYesus semasa pelayananNya di bumi), tapi yang mengalami perjumpaan ilahi ketika hendak ke Damsyik untuk menangkap dan menganiaya pengikut Jalan Tuhan. Justru dalam perjalanan ke Damsyik itulah, ia mengalami perjumpaan ilahi dengan Kristus. Tidak hanya itu, ia pun mengalami percepatan ilahi dalam kehidupan percayanya. Menyimak kisah Paulus diatas, apa yang telah Tuhan buat atas Paulus, kita pun belajar mengenai apa yang harus kita buat (dalam diri kita) agar terjadi percepatan ilahi itu?

Beberapa kebenaran, agar terjadi percepatan ilahi itu adalah:

  1. Ayat 19b-20 : ”… tinggal bersama-sama… memberitakan Yesus…”

Punya gaya hidup bersaksi atau memberitakan Yesus atau selalu ingat akan Yesus. Awal keberadaan Paulus masih ditakuti (dijauhi) tapi setelah mengalami percepatan ilahi lewat perjumpaan ilahinya yang membuat hidupnya berubah. Setelah tinggal bebrapa hari bersama-sama para murid ia pun memberitakan Yesus; sekalipun ia dijauhi dan ditolak.

Seringkali kita berkata, yang penting hidup kita jadi contoh tidak perlu ”kewel-kewel” (bahasa Ambon = cerita besar); tidak usah banyak bicara. Istilahnya tikung sana, tikung sini. Itu sudah cukup. TIDAK BISA! Kita harus punya gaya ahidup bersaksi. Begitupula jemaat ini, dalam ibadah mengalami jamahan dan lawatan Tuhan, tapi ketika kembali ke kehidupan kesehariannya tidak pernah keluar membagi / menceritakan kebaikan Tuhan tersebut, kita tidak masuk dalam percepatan ilahi ini.

Begitupula dengan para hamba Tuhan di ROCK Ministry ini, tidak hanya berkhotbah dibelakang mimbar saja. Sebab – saat ini – penggembalaan secara apostolik itu adalah tidak berdiam diri di tempat, tapi juga harus siap diutus kemana-mana dan bercerita tentang Yesus itu Tuhan.

Dunia tidak membutuhkan kita datang dengan kuasa dan hebatnya kita, tapi dunia butuh saksi dan pengalaman hidup akan kebaikan Kristus! I Korintus 11:24-25, ”jadilah peringatan akan Aku..”

Sebab kalau Tuhan yang menyuruh atau memerintah, dibalik semuanya itu pasti ada perkara-perkara besar (yang disediakan buat kita). Inilah yang disebut dengan ”A Harvest Mentality” atau mental penuaian. Adapun ciri orang yang punya mental penuaian adalah orang yang selalu punya hati Tuhan dan disaksiakan (diceritakan, dibagikan) kepada orang-orang lain; seperti tentang apa yang sudah Tuhan buat dalam hidup kita. Kalau kita bisa cerita itu, itu akan bawa peranan (dampak) dan itulah yang namanya kita masuk dalam percepatan ilahi.

  1. Ayat 26-28. Punya kerinduan bergaul dengan orang-orang yang cinta Tuhan. Dengan bergaul pada orang-orang yang cinta akan Tuhan, juga baca buku-buku dari orang-orang yang mengalami perjumpaaan ilahi dan yang diubahkan hidupnya oleh Tuhan lalu bergaul dengan apa yang mereka buat, untuk kita terima intinya. Hal-hal semacam inilah yang membuat kita masuk dalam percepatan ilahinya Tuhan. Dengan bergaul dengan orang-orang seperti itulah yang dapat membuat iman kita bertumbuh. Ini berbicara tentang “Kingdom Community” atau Komunitas Kerajaan.

  1. Ayat 23,29,31. Justru sedang diancam untuk dibunuh, justru yang keluar (dari hidupnya Paulus) bukanlah ketakutan / kekuatiran, tapi yang keluar justru “sesuatu” yang menguatkan / membangun akan orang lain. Kita lihat sekarang ini, dimana keadaan alam sedang dikacaukan, tidak menentunya situasi politik, ekonomi, keamanan dan lain sebagainya. Ada roh-roh yang membuat timbul ketakutan / kekuatiran tapi ketika kita masuk dalam percepatan rohani; hal-hal itu tidak akan menguasai atau nahkan mempengaruhi kita.

Jadi berkat ketiga ini adalah : Melihat kesengasaraan / penderitaan; dibalik itu ada berkat! Contoh : dalam segi ekonomi. Mungkin saat ini, kelihatannya ada masalah; tidak ada kemajuan (dalam usaha / bisnis), percayalah, selama kita masuk dalam percepatan ilahi pasti dibalik itu ada berkat Tuhan yang besar (yang disediakan bagi kita). Jangan mundur, jangan lari. Seperti Paulus, ia tidak mundur. Ia maju terus, apapun intimidasinya sebab Paulus tahu semuanya itu bukan karena kekuatannya tapi karena kekuatan Tuhan semata, yang memampukan Paulus melakukan perkara-perkara besar. Jangan takut dalam menghadapi persoalan yang menimpa atau masalah yang menghimpit. Selama kita masuk dalam percepatan ilahi percayalah dalam melihat kesengsaraan / penderitaan; dibalik itu ada rencana berkat Allah yang besar. Kalau ROCK di Makasar ini melihat dan menangkap (esensi) ini, maka pastilah akan terjadi penuaian besar-besaran dan nama Tuhan dimuliakan.

Ada juga ”A Covenant Mentality” atau mental perjanjian. Dimana Tuhan bayar kita dengan nyawanya untuk selamatkan kita, manusia. Saat kita mengalami kesengsaraan, Yesus terlebih dahulu mengalami hal itu. Selain itu ada juga ”A Warfare Mentality” atau mental peperangan. Bahwa kita harus berperang melawan diri kita dan strategi dunia, bahwa dibalik itu semua, ada berkat besar. Misalnya : kita yang berusaha / bekerja, sepertinya kok mulai sepi atau biasa-biasa saja. Mulai melihat dengan iman yang besar, bahwa dibalik ini ada berkat Allah yang besar yang disediakan. Tuhan sudah buat itu SEMUA! Jangan buat sesuatu itu maunya kita, tapi maunya Tuhan itu apa? Sehingga kita mengerti kehendak Tuhan, hal-hal yang ajaib pasti Tuhan buat.

  1. I Timotius 6:17-19. ”A Worship Mentality atau mental penggembalaan. Paulus mengajar kita bahwa ketika kita diberkati berkelimpahan (kekayaan) hati-hati kija itu hanya untuk kepentingan diri sendiri. Jadi, ini berarti kehidupan yang dapat dipercaya! Ketika kita diberkati (dalam hal uang / harta) yang berkelimpahan itu bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri tapi juga untuk memberkati orang lain. Begitu juga dengan karunia-karunia rohani, itu semua untuk memberkati orang lain. Kita sehat untuk memberkati orang sakit; kita kuat untuk memberkati orang yang sakit; kita kuat untuk memberkati orang yang lemah.

Uang itu mewakili kehidupan kita. Cara kita menggunakan uang itu mencerminkan cara hidup kita. Ketika kita tidak jujur (dalam hal uang) itu merupakan pertanda karakter kita. Tetapi ketika kita menjadi pribadi- pribadi yang dapat dipercaya, maka ada jaminan Tuhan yang akan mempercayakan akan hal-hal yang lebih dan lebih dan lebih lagi, bagi kita.

Punyalah hati untuk memberkati orang lain!

A worship mentality bukan saja berbicara tentang pujian dan penyembahan, tetapi hal ini lebih ke sikap hati. Contohnya : rendah hati, tidak sombong, mau memberkati, bermurah hati, berbelaskasihan dan mengerti orang lain.

Kalau Anda memiliki mental-mental Kerajaan Allah di atas ada dalam hidup kita, percayalah, Tuhan akan bikin perkara-perkara besar.

SELAMAT MENIKMATI PERCEPATAN ILAHI !!!

 

KUNCI MENERIMA JANJI TUHAN May 31, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana

4 Juni 2006

KUNCI MENERIMA JANJI TUHAN

Bacaan Firman Tuhan: Lukas 24:37-39, Kisah Para Rasul 1:4,8

Dalam Perjanjian Lama (Keluaran 19-24) dimana Musa naik ke gunung Sinai guna menerima dua loh batu yang berisi 10 Hukum Taurat, beberapa kalangan orang percaya menafsirkan itu sebagai “Hari Pentakosta-nya” PL “Hukum” itu menandakan lahirnya bangsa Israel. Tetapi dalam Keluaran 32 dan kitab Ulangan, disebabkan oleh ketidaksabaran Harun maka dibuatlah patung “anak lembu emas”, penyebab tewasnya 3000 orang. Dalam PB, peristiwa Pentakosta menandakan lahirnya “Gereja Tuhan”, ditandai dengan khotbah Petrus di Serambi Salomo yang membawa 3000 orang diselamatkan.

Dari kedua bacaan di atas, saat Roh Kudus dicurahkan maka hidup kita akan penuh dengan kuasa Allah, yang bahasa aslinya adalah “dunamis” atau “dynamic” (bahasa Inggris), yang berbicara tentang suatu kuasa yang dasyat; lalu ada keberanian untuk bersaksi, dalam bahasa aslinya “Martus” atau “Martir” (bahasa Inggris), artinya: orang yang berani mati dan hidupnya tetap di dalam kebenaran.

Tidak semua orang percaya dipanggil untuk menjadi martirnya Allah, tetapi setiap kita, orang percaya, wajib hidup sebagai martir, artinya kita mematikan keangkuhan/keakuan kita. Semuanya itu tentu saja tidak lepas dari adanya kuasa pencurahan Roh Kudus-Nya. “Dynamic” atau dinamo atau generator itu harus terus-menerus bekerja dan memenuhi hidup kita, yang memampukan kita menikmati janji-janji Allah.

I Korintus 10:1-11

Ini adalah sejarah gambaran perjalanan bangsa Israel ketika mereka keluar dari tanah perbuadakan, Mesir. Sebenarnya, ini merupakan gambaran perjalanan hidup orang percaya:

- ketika bangsa Israel keluar dari Mesir: gambaran hidup dimana kita meninggalkan (keluar dari) cara hidup yang lama, keberdosaan kita, atau born again (lahir baru);

- masuk ke padang gurun: gambaran hidup kita yang akan masuik ke dalam ujian/masalah untuk dibentuk dan diproses;

- masuk berjalan melewati laut merah: gambaran hidup kita yang dibaptis air;

- keluar dari laut merah, masuk ke padang gurun sampai tiba di Gunung Sinai: gambaran hidup kita yang sudah dibaptis, tetapi tetap mengalami proses pembentukan Tuhan hingga kita menerima baptisan Roh Kudus.

Perjalanan bangsa Israel di atas menggambarkan kehidupan kita yang walaupun sudah percaya, menerima keselamatan (lahir baru), dibaptis air hingga dibaptis Roh Kudus, tetapi masih sering gagal. Misalnya kegagalan dalam rumah tangga, ekonomi/bisnis, tidak menikmati ketenteraman/kedamaian dalam hati (tak terkecuali bagi mereka yang sudah bernubuat atau yang mendapatkan penglihatan dari Tuhan). Mengapa? Jadi apa yang harus kita lakukan supaya dapat menerima janji-janji Allah yang besar, khususnya dalam memperingati hari Pentakosta ini? Adapun kunci untuk menerima janji-janji Tuhan, kita dituntut untuk menyingkirkan beberapa penghalang berikut ini:

1. Penghalang I à Perbuatan jahat (ay.6; Yakobus 3:16).

Perbuatan jahat adalah perbuatan mementingkan diri sendiri dan/atau iri hati. Contoh : Saul dan Daud. Hanya karena bangsa itu menyanyikan “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa” (I Samuel 18:7) membuat Saul iri hatinya, hingga timbul kompetisi. Begitu juga dengan ROCK Ministry. Apaun program yang kita rencanakan dan kita buat, walau berbau rohani sekalipun, tetapi menimbulkan kompetisi dan hanya untuk kepentingan diri sendiri dan bukan untuk Tuhan, itu adalah perbuatan jahat!

Atau ada juga yang berkata, “Tuhan berbicara kepada saya pergi dan melayani ke daerah anu. Tapi, setibanya di sana ternyata untuk memuaskan hawa nafsu (membawa-bawa nama Tuhan untuk kepentingan sendiri). itu adalah perbuatan jahat! (baca juga: Matius 7:21-23).

Perbuatan jahat itu dasarnya hawa nafsu. Definisi hawa nafsu adalah segala sesuatu yang kita lakukan hanya untuk kepentingan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain. Contohnya adalah perselingkuhan dalam rumah tangga, hamil di luar nikah. Sedangkan Kasih sebaliknya, yaitu melakukan segala sesuatu untuk kepentingan orang lain dengan mengorbankan diri sendiri, dengan maksud memberkati, membagi dan menghargai.

2. Penghalang II à Penyembahan berhala (ayat 7)

Ada 2 tipe penyembahan berhala, yaitu:

o tipe klasik (yang kelihatan, berupa fisik), seperti opo-opo, jimat, patung, dll.

o tipe masa kini, seperti uang/harta, cari uang/nama, bahkan bisa juga televisi.

Penyembahan berhala adalah suatu sistem yang diciptakan di dalam pikiran kita untuk memberi suatu nilai atau harga yang lebih pada hal-hal lain dibandingkan Tuhan. Hal-hal yang berpotensi untuk menjadi berhala, misalnya suami, istri, anak-anak, kebiasaan/hobby, olahraga, pekerjaan, pelayanan, bisnis.

Tuhan sebenarnya sudah memberikan kasih itu pada kita, kemampuan untuk memberi itu ada pada kita. Persoalannya adalah di mana kita menempatkan “kasih” itu, apakah di perasaan ataukah di keputusan kita? Jika kita menempatkan kasih itu pada perasaan, kita telah gagal. Kita akan menjadi orang yang mudah tersinggung, iri hati, atau bahkan menjadi kecewa dengan orang lain. Namun, ketika kasih itu kita letakkan pada keputusan, pasti beda.

Imamat 18:21, Janganlah kauserahkan seorang dari anak-anakmu untuk dipersembahkan kepada Molokh, supaya jangan engkau melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.” Orang yang menyembah dewa Molokh pasti akan mengorbannya anak-anak (keluarganya). Misalnya, seorang pendeta yang mencurahkan waktunya lebih banyak pada pelayanan, maka keluarganya, baik itu istri/suami sampai anak-anaknya akan terlantar. Mereka bisa punya banyak waktu untuk mengkonseling jemaat, tetapi untuk keluarga tidak sempat. Tidak heran banyak anak-anak pendeta/hamba Tuhan, diaken bahkan majelis gereja yang kenakalan melebihi anak-anak jemaat pada umumnya?

3. Penghalang III à Percabulan [ayat 8]

Cabul berarti kotor, keji, tidak senonoh, melanggar kesusilaan dan kesopanan. Jadi, perbuatan cabul adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan perkara cabul, yaitu pelanggaran-pelanggaran kesopanan. Dunia hari-hari ini menganggap cabul sebagai hal yang biasa. Tetapi di mata Tuhan, dosa tetap dosa. Ketika kita mulai menganggap dosa sebagai hal yang biasa, maka pastilah keluarga kita akan hancur. Cara menyelesaikannya adalah dengan terbuka minta ampun kepada Tuhan. Kita akan diampuni, tapi belum sembuh. Kita baru akan sembuh ketika saling mengaku dosa dan saling mendoakan (Yakobus 5:16). Mau sembuh? Mengakulah! Suami mengaku kepada istri, dan sebaliknya. Tetapi jika perbuatan cabul itu terjadi dalam pikiran kita, cari orang-orang yang dapat dipercaya dan yang lebih dewasa rohaninya.

4. Penghalang IVà Mencobai Tuhan (ayat 9)

Kita memaksa Tuhan melakukan segala sesuatu di luar kehendak atau karakterNya. Misalnya,, kita datang beribadah memohon kesehatan, tetapi kita sendiri masih merokok. Atau kita terlibat dalam pelayanan tetapi hanya self-service dan bukan untuk menyenangkan Tuhan, itu juga mencobai Tuhan.

5. Penghalang V à Bersungut-sungut (ayat 10).

Ini adalah sikap hati, dimana kita berdiri di luar ke-Mahakuasa-an Tuhan. Sedangkan bersyukur adalah sikap hati yang menempatkan diri dalam ke-Mahakuasa-an Tuhan. Misalnya, kita yang selalu beribadah berkata, “Mana janji Tuhan? Mana buktinya? Bukankah saya sudah setia beribadah selama ini?” Tanpa kita sadari, sebenarnya kita sedang bersungut-sungut.

Kalau mau melihat perubahan terjadi di sekitar kita, maka kitalah yang harus terlebih dahulu berubah dan diubah Tuhan.

Saatnya kita tinggalkan penghalang-penghalang itu dan menatap hari-hari di depan kita. Jangan tawar hati dengan yang terjadi di sekitar kita, tetapi pandang Tuhan, sebab ada berkat besar di sana! /WM

Kesuksesan atau keberhasilan itu biasa, yang luar biasa adalah ketika orang mau bangkit dari kegagalan!

 

MURID SEJATI May 31, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana

7 Mei 2006

”MURID SEJATI”

Apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan murid sejati? Murid sejati adalah orang yang senantiasa mau bertumbuh dalam kebenaran dan keberanian. Seperti seorang serdadu yang berlatih untuk berperang, seorang dokter yang berlatih untuk penyembuhan; sedangkan murid sejati berlatih untuk mewujudkan gambar Tuhan serta memberitahukan ”alamatnya” (keberadaan) Tuhan, di sorga.

Mengapa Allah menganggap penting seorang murid sejati? Hal ini disebabkan, karena Allah menginginkan sampai akhir (kehidupan kita) pun kedapatan tetap setia padaNya. Haleluya !!!

Matius 4:23-25;5:1

Dari bacaan di atas, kita dapati bahwa banyak orang yang datang kepada Yesus hanya untuk mencari berkat (makan dan minum), cari kesembuhan, atau cari kekuatan saja. Tapi ada hal yang yang tidak lazim, yang justru Tuhan Yesus lakukan. Ia malah naik ke atas bukit. Tuhan tahu kenapa Ia harus naik ke atas bukit, karena orang yang mengalami pemulihan jassmani, tokh masih bisa sakit; orang yang diberkati (uang) uang inipun bisa ”terbang” (walau uang tidak bersayap / hilang). Sebab hal-hal itu hanyalah sebuag ”kebenaran yang sementara”. Tapi Tuhan Yesus memberitahukan bahwa ada ”kebenaran yang kekal”, yaitu dengan menjadi murid. Artinya, kita tidak datang masuk ke gereja hanya untuk jadi pengunjung / turis atau sekedar penunjang bahkan sekedar berkomirmen supaya menjdapat pelayanan pastoral nantinya.

Lukas 5:15-16

Ini menunjukkan bahwa kadangkala kita – sebagai pengikut Kristus – cenderung senang kalau beribadah berada di tempat yang ramai. Tapi saat sendirian (saat teduh dengan Tuhan) kita tidak lagi memiliki gairah untuk berdoa dan baca Firman Tuhan, bahkan kita malamnya kita tertidur tanpa mengerti apa kehendak Tuhan saat itu. Juga ada yang suka berbahasa roh pandang dan lama sekali dalam ibadah, padahal bagsa roh itu untuk membangun diri sendiri, ini dilakukan saat teduh. Baru dalam ibadah bersama, kita membangun jemaat melalui nubuat. Selidikilah hati kita; saat kita sendirian apakah fokus kita tetap tertuju kepada Tuhan ataukah tidak.

Yohanes 6:22-27;66

Yesus tidak hanya datang sebagai entertainment atau hanya memuaskan keingingan “daging” kita! Akan Tetapi Dia, Yesus, membawa kita kepadaNya naik satu level iman lebih lagi. Yang dimaksudkan dengan naik satu level iman lebih lagi adalah soal penderitaan, proses atau pembentukan. Oleh karenanya di ayat 66, banyak murid yang meninggalkan Tuhan Yesus.

Hari ini sama. Seringkali kita dlam pengiringan kita akan Tuhan Yesus hany didasari ingin diberkati semata. Sehingga saat proses datang (ada tantangan), kita bukanlah menjadi orang yang mundur. Sebab ada kebenaran kekal, yang membuat kita kuat menghadapinya.

Namun juga, acapkali kita yang ”memaksa” Tuhan turun ke levelnya kita, dan bukannya mengijinkan Tuhan yang membawa kita naik ke level yang Dia kehendaki, bukan?

Matius 8:18-23

Kita tentu senang saat ada orang terpelajar, ahli agama, atau pejabat pemerintahan yang datang ke tempat ibadah dimana kita beribadah. Akan tetapi dari pembacaaan di atas, Tuhan Yesus malah mempunyai pandangan berbeda dengan pandangan kita pada umumnya. Yesus malah naik kapal dan menyeberang. Apakah Tuhan Yesus tidak senang dengan hal itu. Kita belajar bahwa bukan itu tujuan utama, karena orang-orang itu hanya mau datang pada Yesus dan tinggal pada level yang disebut murid saja.

Hari ini, kita memang membutuhkan banyak orang yang bertitel, jumlah jemaat yang banyak, ada orang dari pejabat pemerintahan, orang yang berduit. Terlepas dari semuanya itu, gereja harus punya goal 7ntuk mencapai level yang lebih tinggi yaitu menjadi “murid sejati”.

Apa itu bukti seorang murid?

  1. Yohanes 8:31-32. Bukti kita adalah murid Tuhan Yesus yaitu tinggal dalam Firman Tuhan.
  2. Yohanes 12:34-35. Bukti kita adalah murid Tuhan Yesus adalah dengan saling mengasihi. Tuhan Yesus memberi bukti Dia tidak hanya menerima orang-orang yang baik saja, tapi justru tujuan Dia datang ke bumi adalah untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang terhilang (berdosa).

Lantas mengapa ada banyak murid yang gagal (dalam hal ini mereka tidak sampai menjadi murid sejati)? Tuhan Yesus memberikan jalan keluar :

- I Yohanes 2:6; seorang murid berlatih untuk menjadi sama dengan gurunya. Guru kita adalah Yesus Kristus. Jadi, kita harus hidup sama seperti dengan kehidupan Yesus, atau menjadi seperti apa yang Yesus jalani ini berbivara tentang gaya hidup Yesus).

Apa itu gaya hidup Yesus? Yohanes 5:19; menjelaskan gaya hidup Yesus adalah melakukan apa yang Bapa kerjakan. Ini gaya hidup intimacy atau hidup bergaul dengan Bapa, yaitu dengan menyediakan waktu lebih dengan Tuhan.

- Yakobus 1:12-15; jika kita mau berbahagia, alamilah pencobaan. Sebab berbahagialah orang-orang yang bertahan dalam pencobaan, dia akan menang, bahkan dia akan lebih dari pemenang.

Kita akan intim dengan Tuhan bukankah saat kita sedang mengalami pencobaan? Oleh karenanya, tanamkan ini, dibalik masalah ini pasti ada berkat, ada tuntunan tangan Tuhan, ada janji-janji Tuhan, juga ada jalan keluar.

Namun jangan juga bergaul dengan Tuhan hanya saat masalah datang menghimpit. Ini juga salah. Saat kesembuhan terjadi, ada pemulihan, pertolongan Tuhan, promosi; jangan lupakan Tuhan. Maka latihlah terus waktu kebersamaan kita dengan Allah; menyadari keberadaan Tuhan, menyembah dan berbicara dengan Dia. Mulai latihan itu dari 1 jam, 2 jam dst. Latih dan latih terus hingga menjadi kebiasaan, saat dimana Tuhan menguasai kita (Galatia 2:20).

Saat kita bergaul karib dengan Dia (intim), kita tidak hanya menerima berkat, tapi kita juga akan dijadikan berkat bagi sesama.

Yehezkiel 34:26

”Aku akan menjadikan mereka dan semua yang ada di sekitar gunungKu menjadi berkat; Aku akan menurunkan hujan pada waktunya; itu adalah hujan yang membawa berkat.”

Amin !!!

 

TEMPAT KESUKAAN / FAVORIT TUHAN May 25, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana

2 April 2006

TEMPAT KESUKAAN / FAVORIT TUHAN

Bacaan Firman Tuhan : Matius 21:17; Markus 11:11-12; Lukas 24:50

Berbicara tentang memberkati kota bukan berbicara tentang memberkati secara fisik tapi lebih ke personnya (masyarakat dalam kota tersebut). Dari ketiga bacaan di atas, ada hal yang membuat Yesus menjadi tertarik dan betah untuk tinggal di Betania. Ada perasaan feel at home di sana. Hal ini juga yang menjadi kerinduan setiap kita dimana dalam pribadi, keluarga, pelayanan, gereja lokal sampai ke lingkungan masyarakat kita, Yesus membuat tempat kesukaanNya dalam kita.

Dengan uang yang banyak membeli sebuah rumah yang mewah dan bagus, tapi kita tidak dapat membeli suasana dalam rumah tersebut.

Betania berarti rumah kencan (house of date). Setiap kita harus menjadi rumah kencanNya Tuhan, dimana Dia dapat menggendong, merangkul dan berinteraksi dengan kita. Yang membuat Tuhan Yesus tertarik dengan Betania, bukan soal ada objek wisata atau adat istiadat, tapi lebih karena Yesus mendapati ada 3 (tiga) pribadi dalam kota itu yang membuatNya Tuhan jatuh hati.

  1. Marta; yang melayani sifat lahiriah (kemanusiaan) Yesus. Orang yang senang mengadakan fellowship dan duduk dalam strukur/organisasi.
  2. Maria; yang melayani sifat keilahian Yesus. Orang yang suka duduk dalam menara doa dan berdoa, mengikuti seminar-seminar doa, bernubuat dan kegiatan-kegiatan prophetic apostolic lainnya.
  3. Lazarus; saat Lazarus mati barulah Tuhan menyatakan kuasa kebangkitan. Artinya, jika kita mau mati dari keakuan / kedagingan kita, maka Tuhan akan membangkitkan kehidupan yang baru.

Setiap kita pasti punya penonjolan-penonjolan baik itu di pelayanan Marta, Maria atau juga Lazarus. Tempat terbaik bukan soal posisi pelayanan tapi tempat yang Tuhan mau dari kita. Setiap kita punya bagian dan tempat dalam menyenangkan hatiNya Tuhan. Yang buat Tuhan senang adalah ada gaya hidup pelayanan atau gaya hidup Tuhan dari ketiga pribadi ini. Kalau ketiga hal ini yang kita buat dan selalu tanya Tuhan apa yang kita buat, terjadi kematian ”daging” kita, pelayanan yang selalu berfokus pada Tuhan, adanya kehidupan doa, hidup dalam hikmat, dan gaya hidup berfellowship. Itu yang buat Tuhan senang dan betah.

Sebelum menjawab hal ini marilah kita lihat terlebih dahulu level-level rohani, yaitu:

  1. I Korintus 3:1-3; level bayi. Level dimana kita selalu minta diperhatikan, hidup secara manusia duniawi.
  2. Filipi 2:19-22; level pelayanan. Mulai memperhatikan kepentingan orang lain, tapi saat ada masalah yang maunya mundur dari pelayanan, mementingkan diri sendiri (motivasi untuk keuntungan diri sendiri).
  3. Lukas 17:7-10; level hamba. Berserah sepenuhnya pada Tuhan dan tidak mengharapkan terima kasih.
  4. Yohanes 15:13-15; level sahabat. Memberikan nyawa, mau mati bagi sahabat. Maka Tuhan yang akan memimpin hidup kita. Hasilnya, kita mengetahui rahasia-rahasia Allah.

Saat kita mau ”mati” kedagingan kita, inilah yang menjadi rumah kesenangan Tuhan. Dan apabila Tuhan yang hidup, hidupNya yang penuh berkat itu melingkupi kita.

Kenapa banyak orang tidak mau ”mati”?

- Karena masih sering kepahitan (Ibrani 12 : 15, Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.)

- Masih mencintai sesuatu lebih dari Tuhan (I Timotius 6:10; Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka)

- Masih mencintai diri sendiri

- Masih menyimpan dosa.

Apapun yang kita lakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Saat kita taat, Tuhan akan buat segala sesuatu !

 

DOA YANG MENJUNGKIRBALIKKAN DUNIA May 24, 2008

Pdt. Eluzai Frengky Utana

5 Maret 2006

DOA YANG MENJUNGKIRBALIKKAN DUNIA

Bacaan : Yakobus 5:16

Dalam Kejadian 16:1-16; 21:1-34, menceritakan tentang Hagar dan Ismael. Nama Ismael itu berasal dari Tuhan yang memberikan nama tersebut. Ismael sendiri berarti “Tuhan mendengar”. Ismael lahir saat Abraham berumur delapan puluh enam tahun. Sara, isteri Abrahan, melihat bahwa dia tidak dapat memberikan anak bagi suaminya, maka Sara memberikan Hagar budaknya untuk suaminya. Setelah tahu bahwa Hagar mengandung, Hagar mulai memandang rendah akan nyonyanya. Dan atas persetujuan Abraham, Sara menindas Hagar sehingga Hagar lari daripadanya. Saat dalam pelarian itulah Hagar bertemu dengan Tuhan dan menamakan tempat tersebut dengan nama “El-Roi” yang artinya “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?”

Mulai dari dalam kandungan Ismael ada benih penolakan, hal yang membuatnya menjadi “keledai liar”. Bahkan saat Ismael berusia 14 tahun dan Ishak masih kanak-kanak –dalam terjemahan bahasa Inggris – kata “bermain-main” diterjemahkan dengan “menganiaya, menindas” (lihat juga Galatia 4:29). Jadi, penganiayaan atas umat Tuhan itu sudah ada sejak jaman dahulu.

Ada tiga hal yang membuat kita dapat menyingkirkan keledai liar itu dari dalam kehidupan kita, yaitu :

1. Milikilah hati yang murni dan tulus (Kejadian 16:10-13;21:16-19)

Apa yang tidak mungkin dalam segala aspek kehidupan di dunia ini, mungkin bagi Allah. Permasalahannya, adalah apakah kita berseru kepada Tuhan atau tidak? Dengan Saudara berseru, Tuhan mendengar, Dia melihat kita, tapi kalu kita tidak melihat, kita tidak akan melihat “sumur-sumur yang terbuka” itu (lewat hati kita). Biarkan dengan hati kita melihat sumur-sumur berkat dalam semua aspek kehidupan kita yang dibukakan bagi kita, di tengah-tengah situasi yang tidak menentu ini.

Hal yang perlu kita lakukan agar kita dapat melihat dengan hati kita adalah memiliki hati yang murni dan tulus; atau kita “menendang” keledai liar keluar dari kehiduapan kita. Keledai liar dapat berbicara tentang mudah tersinggung, ingin dihormati, dihargai, iri dengki.

Dan saat kita berseru padaNya dan melihat dengan hati kita, kita akan mendapatkan otoritas/wibawa dan warisan Ilahi yang dari Tuhan tentunya. Dunia ini, tanah Kanaan kita. Ada sumur-sumur yang banyak. Apa yang sedang kita lihat? Mungkin sumur ekonomi kita tertutup sekarang; Tuhan akan bukakan itu bagi kita. Atau, sumur dalam masalah keluarga dimana kita terhimpit didalamnya hingga mencapai batas-batas perceraian, kemampuan Tuhan akan membukakan sumur damai sejahtera bagi kita. Tapi, sekali lagi, adakah kita mau agar keledai liar itu disingkirkan dari kehidupan kita?

Dalam apapun yang kita lakukan, kerjakan, dalam pelayanan, mari koreksi kehidupan kita? Apakah masih ada keledai liar itu dalam kita atau tidak? Agar apa pun yang kita lakukan, kerjakan dan dalam pelayanan yang kita lakukan itu menyenangkan hati Tuhan semata.

2. Kedudukan kita haru dlebih tinggi dari cara-cara/pandangan dunia [Lukas 16:7-8]

Kalau kita cermati mengapa Tuhan memuji anak-anak dunia yang tidak jujur tapi dibilang cerdik. Artinya, kita yang adalah anak-anak terang, tidak bisa hanya hidup dengan standar yang sama dengan dunia, yang pas-pasan (rata-rata). Kalau mau menikmati akan berkat dan besar kuasanya Tuhan, kita harus hidup dengan “standar di atas rata-rata”. Hal ini yang Tuhan bilang, “Kalau kita ditampar pipi kiri beri pipi kanan; kalau kita disuruh berjalan satu mil, berjalanlah 2 mil; saat baju kita diminta berikanlah jubah kita.”

Hanya orang-orang yang berada “satu tingkatan” di atas rata-rata / dunia, barulah doanya dapat menjungkirbalikkan dunia, penuh kuasa dan dasyat. Contohnya :

a. Elia (I Raja-raja 18:20-40).

Yang membuat doanya Elia didengar Tuhan adalah ini : Elia menggunakan iman di atas rata-rata, dengan menambahkan air pada korban persembahannya. Dimana pada saat itu, sedang terjadi masa kekeringan akibat hujan tidak turun selama tiga setengah tahun. Elia memberikan air justru pada saat krisis air. Elia membuat sesuatu cara yang lebih tinggi dari cara nabi-nabi Baal.

Begitu juga dengan kita sekarang ini saat kita berdoa dengan iman yang diatas rata-rata, kita juga akan melihat kehebatan yang Tuhan sediakan di tahun 2006 ini.

b. Abraham.

Ketika orang lain mempersembahkan kambing dombanya, Abraham justru diminta untuk mempersembahkan Ishak, anak semata wayangnya. Ini membutuhkan kematian atas kedagingan dan rasa memilikinya.

3. Ada persekutuan dan penaburan (Kejadian 1:26-29).

Tuhan telah taruhkan – dalam kita – daya pelipatgandaan. Dengan Tuhan berfirman terjadi kuasa pelipatgandaan. Begitu juga saat kita dengar firman Tuhan, daya pelipatgandaan itu masuk dan berdiam dalam kita.

Kita juga dipercayai dalam pelipatgandaan dalam soal uang. Potensi itu adalah kita. Kuncinya adalah :

- ada fellowship (persekutuan);

- ada penaburan biji; berbicara hidup kita. (Kisah 10:1-4)

Matius 6:21, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Amin.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.